Harga Batu Bara Jatuh, Turun Hampir 1%

Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/market/20220812060635-17-363148/harga-batu-bara-jatuh-turun-hampir-1

 

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara kembali menginjak bumi setelah terbang kemarin. Pada perdagangan Kamis (11/8/2022), harga batu kontrak September di pasar ICE Newcastle ditutup di US$ 397,3 per ton. Turun 0,92% dibandingkan hari sebelumnya.

Pelemahan kemarin menghentikan rally harga batu bara yang sudah berlangsung sejak Senin pekan ini. Pelemahan juga membuat harga batu bara terlempar dari level psikologis US$ 400 per ton.

Secara keseluruhan, harga batu bara masih melonjak 8,8% dalam sepekan secara point to point. Namun dalam sebulan, harga batu bara masih ambles 6,9%.

Pelemahan harga batu bara salah satunya disebabkan aksi profit taking trader setelah lonjakan harga yang terjadi pada Selasa-Rabu pekan ini. Harga batu bara juga melandai terimbas sentiment masih melemahnya permintaan baja di China.

Dilansir dari S&P Global, permintaan bahan konstruksi China diperkirakan masih akan rendah hingga akhir tahun karena pembangunan properti melandai dan kepercayaan investasi belum membaik. Krisis Evergrande membuat permintaan pembangunan properti di China menyusut sehingga permintaan akan baja terus melandai.

Batu bara metalurgi merupakan salah satu materaial utama dalam produksi baja. Penurunan permintaan baja akan berimbas kepada batu bara.

"Bukan hanya trader tetapi sebagian besar perusahaan juga sangat mengkhawatirkan jika turunnya pembangunan rumah akan terus menekan permintaan baja," tutur salah seorang trader, kepada S&P Global.

Kendati melemah kemarin, harga batu bara masih tetap tinggi dan mendekati level psikologis US$ 400/ton. Masih tingginya harga batu bara disebabkan lonjakan harga gas serta kebijakan Uni Eropa yang melarang impor batu bara Rusia berlaku sejak kemarin.

Kekhawatiran pasokan energi masih menyelimuti sebagian besar Eropa, terutama Jerman. Jerman dikhawatirkan tidak mampu mengejar pasokan energi untuk musim dingin karena pemangkasan aliran gas Rusia serta terganggunya lalu lintas pengiriman batu bara akibat semakin menyusutnya permukaan Sungai Rhine. Padahal, Jerman membutuhkan banyak pasokan batu bara karena akan mengoperasikan kembali sejumlah pembangkit listrik batu bara mereka.

Permukaan Sungai Rhine menyusut hingga menjadi 30-35 cm. Permukaan sungai diperkirakan bakal akan terus menyusut hingga menjadi 30 cm. Level tersebut sudah tidak memungkinkan untuk lalu lintas pengiriman barang.

"Sepertinya masih ada orang yang benar-benar belum yakin bahwa pasokan energi untuk musim dingin sudah aman, Aliran gas Rusia masih belum lancar dan ini membuat harga energi naik," tutur salah seorang trader, kepada Montel News.

 

TIM RISET CNBC INDONESIA

Related Regular News: