Berkat China dan Korea, Harga Batu Bara 'Mengangkasa'

Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/market/20220701053611-17-351956/berkat-china-dan-korea-harga-batu-bara-mengangkasa

 

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara kembali menguat setelah menjalani periode negatif. Pada perdagangan Kamis (30/6/2022), harga batu kontrak Agustus di pasar ICE Newcastle ditutup di US$ 368,95 per ton. Melonjak 2,5%.

 

Menguatnya harga batu bara kemarin memperbaiki kinerja si batu hitam yang bergerak dalam tren negatif sejak Jumat pekan lalu. Sepanjang Jumat pekan lalu hingga Rabu pekan ini, harga batu bara terus melemah, kecuali pada Selasa (28/6/2022) di mana harga batu bara menguat tipis 0,15%.

 

Dalam sepekan, harga batu bara sudah merosot 7,1% secara point to point. Dalam sebulan harga batu bara juga sudah melemah 1,9%.

 

Dilansir dari Montel News, kembali menguatnya harga batu bara didorong oleh permintaan yang masih tinggi dari kawasan Eropa dan Asia. Pasokan di tingkat global sudah meningkat tetapi adanya kekhawatiran gangguan persediaan membuat pelaku pasar khawatir sehingga harga kembali merangkak naik.

 

Kenaikan harga terutama terjadi pada batu bata berkalori tinggi yang diimpor dari Australia. "Pasar batu bara berkalori tinggi kembali ketat karena adanya kekhawatiran keseimbangan pasokan dan permintaan untuk 2022 setelah krisis (gas) di Eropa," tutur analis yang berbasis Singapura, kepada Montel News.

 

Menurutnya, importir Eropa kini mengincar batu bara dari Australia dan Indonesia untuk menggantikan pasokan dari Rusia. Australia merupakan eksportir terbesar di dunia untuk batu bara metalurgi atau kokas sementara Indonesia adalah eksportir terbesar untuk batu bara thermal.

 

Kedua negara ini tengah dihadapkan pada persoalan cuaca dalam meningkatkan produksi batu bara. Biro meteorologi Australia memperkirakan akan ada hujan deras dalam beberapa minggu ke depan di wilayah pesisir timur yang merupakan hub utama ekspor batu bara. Kondisi tersebut bisa mengganggu lalu lintas ekspor sehingga pasokan menipis.

 

Sementara itu, permintaan batu bara dari Jepang dan Korea Selatan diperkirakan meningkat karena musim panas. "Permintaan dari Jepang dan Korea Selatan juga cukup kuat karena tengah menghadapi musim panas. Jadi permintaan meningkat sementara pasokan kurang bisa mengimbangi," tutur trader dari Singapura.

 

Jepang dan Korea Selatan tengah menghadapi musim panas yang membuat penggunaan listrik meningkat. Jepang bahkan sampai meminta masyarakatnya mengurangi penggunaan listrik seperti AC agar pasokan listrik tidak sampai pada tahap genting. Suhu di Tokyo mencapai 35,1 derajat celcius pada awal pekan pekan ini.

 

Sementara itu, Korea Selatan berencana menunda pembatasan kapasitas pembangkit listrik batu bara mereka sepanjang Juli-Agustus tahun ini. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi tingginya permintaan listrik pada musim panas sekaligus mengurangi penggunaan LNG. Pembangkit listrik batu bara berkontribusi sekitar 40% terhadap produksi listrik Negeri Ginseng sementara pembangkit listrik LNG sekitar 25%.

 

Permintaan batu bara dari China juga diperkirakan akan meningkat menyusul pelonggaran karantina. Pelonggaran tersebut diharapkan bisa mempercepat pemulihan ekonomi Beijing sekaligus meningkatkan permintaan batu bara.

 

Produksi batu bara Negeri Tirai Bambu pada Januari- Mei mencapai 1,81 miliar, atau naik 10,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Impor mereka juga turun 13,6% menjadi 96 juta ton pada lima bulan pertama tahun ini.

 

Namun, China menggenjot impor dalam jumlah besar sepanjang Juni ini, terutama dari Rusia. Mereka memanfaatkan harga murah untuk meningkatkan pasokan. Dilansir dari CNBC International, impor batu bara dari Rusia selama 28 hari pada Juni sudah mencapai 6,2 juta ton, melonjak 55% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Impor mereka juga meningkat dibandingkan bulan Mei yang tercatat 5,5 juta ton.

 

"Meskipun permintaan dalam negeri masih rendah dan produksi mereka meningkat, China tetap mengimpor batu bara dari Rusia dalam jumlah besar karena ada diskon harga," tutur Pranay Shukla, dari S&P Global Market Intelligence, kepada CNBC International.

 

 

TIM RISET CNBC INDONESIA

 

Related Regular News: