Ramalan Harga Batu Bara: Cerah!

Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/market/20220627055533-17-350514/ramalan-harga-batu-bara-cerah

 

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara pada pekan ini diramal masih akan tinggi sejalan kenaikan permintaan. Pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (24/6/2022), harga batu bara kontrak Juli di pasar internasional memang ditutup melemah 2,5% ke posisi US$ 387 per troy ons.

 

Namun, dalam sepekan, harga batu bara melonjak 7,9% secara point to point. Ini adalah kenaikan terbesar dalam satu pekan setelah pekan ketiga Mei (16-20 Mei 2022) yakni 16%.

 

Kenaikan pada pekan lalu juga membawa batu hitam nyaris menyentuh US$ 400/per ton. Harga batu bara juga masih naik 2,2% dalam sebulan dan melesat 201,4% dalam setahun.

 

Harga batu bara diperkirakan masih akan tetap tinggi pada pekan ini karena permintaan dari sejumlah Eropa meningkat sementara sebaliknya pasokan semakin ketat. Sekretaris Perusahaan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Dileep Srivastava mengatakan produksi batu bara Indonesia masih belum maksimal, terutama karena persoalan cuaca. Padahal, Indonesia merupakan eksportir terbesar untuk batu bara thermal.

 

"Harga batu bara masih akan bergerak pada level yang sekarang ini. Pasokan batu bara terutama untuk kualitas benchmark sangat ketat di pasar global," tutur Dileep, kepada CNBC Indonesia.

 

Dileep menambahkan dampak La Nina membuat produksi batu bara berkurang. Produsen batu bara juga tidak bisa meningkatkan produksi cepat karena persoalan pembiayaan.

 

"Dengan harga gas yang semakin mahal dan ketidakmampuan sumber energi terbarukan yang tidak bisa menggantikan energi fosil dengan cepat maka harga batu bara kemungkinan masih akan naik tahun ini dan sepertinya masih tinggi dalam jangka menengah," imbuhnya.

 

Harga batu bara melonjak tajam pada pekan lalu setelah Rusia memangkas pasokan gas ke sejumlah negara Eropa. Kondisi ini membuat Belanda, Jerman, Austria, hingga Inggris beralih ke batu hitam. Negara tersebut akan menghidupkan kembali pembangkit listrik batu bara untuk mencegah krisis listrik.

 

Pemerintah Prancis, Minggu (26/6/2022) juga mengumumkan jika mereka akan kembali menghidupkan pembangkit listrik batu bara. "Mengingat situasi di Ukraina dan sebagai langkah pencegahan, menghidupkan kembali pembangkit Saint Avold akan menjadi opsi cadangan kami," tutur kementerian energi Prancis dalam pernyataannya, seperti dikutip Reuters.

 

Prancis menggantungkan 70% pasokan listriknya dari sumber energi nuklir sementara batu bara hanya 1%. Pembangkit Saint Avold sudah dipensiunkan pada Maret tahun ini. Satu-satunya pembangkit yang masih beroperasi adalah Cordemais di in Loire-Atlantique yang diizinkan beroperasi hingga 2024 mendatang.

 

Sesuai aturan, pembangkit batu bara hanya bisa beroperasi maksimal 700 jam per tahun. Namun, kapasitasnya bisa dinaikkan menjadi 1.000 per jam jika terjadi krisis energi.

 

Samantha Gross, dari Brookings Institute's Energy Security and Climate Initiative, memperkirakan harga batu bara masih akan tinggi karena adanya mismatch antara pasokan dan permintaan. Permintaan batu bara sepanjang 2020 dan 2021 melemah karena adanya pandemi Covid-19. Pembatasan mobilitas dan berkurangnya aktivitas industri membuat penggunaan listrik dan berkurang sehingga permintaan batu bara pun turun.

 

Sejalan dengan membaiknya situasi pandemi dan pemulihan ekonomi maka permintaan batu bara melonjak. Namun, dari sisi produksi belum bisa mengimbangi.

 

Kondisi tersebut diperburuk dengan serangan Rusia ke Ukraina yang membuat pasokan global semakin ketat mengingat Rusia adalah salah satu penyumbang utama batu bara di pasar global.

 

"Permintaan energi rebound sangat cepat, lebih cepat dari peningkatan pasokan. Harga komoditas energi sudah naik sebelum perang. Perang membuat shock di pasar dan memberi tantangan luar biasa terhadap pasokan komoditas energi," tutur Gross, kepada CNN.

 

TIM RISET CNBC INDONESIA

 

Related Regular News: