Kembali On Fire, Harga Batu Bara Naik 2,4%

Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/market/20220512061254-17-338316/kembali-on-fire-harga-batu-bara-naik-24

 

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara menggeliat setelah sempat anjlok pada awal pekan. Pada perdagangan Rabu (11/5/2022), harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) untuk kontrak Juni ditutup di level US$ 357,15 per ton. Menguat 2,41% dibandingkan penutupan hari sebelumnya.

 

Penguatan kemarin memutus rekor buruk harga batu bara yang anjlok pada Senin-Selasa (9-10 Mei). Selama dua hari tersebut, harga batu bara ambles 2,68%.

 

Dalam sepekan, harga batu bara masih melemah 0,24% secara point to point. Namun, dalam sebulan, harga batu hitam masih menguat 12,4% dan dalam setahun melesat 243,7%.

 

Penguatan harga batu bara didorong aksi bargain buying saat harga si batu hitam sudah murah. Juga, didorong permintaan komoditas tersebut yang masih tinggi, terutama dari India.

 

Sejumlah negara bagian di Negeri Bollywood kembali mengoperasikan pembangkit listrik batu baranya atau meningkatkan kapasitas pembangkitnya sehingga permintaan batu bara meningkat. India sudah meminta pembangkit listrik batu bara mereka untuk meningkatkan kapasitas guna memenuhi kebutuhan listrik yang melonjak tajam karena gelombang panas.

 

Sementara itu, Australia menghidupkan kembali pembangkit batu bara mereka di Queensland setelah selesai dilakukan pemeliharaan. Pembangkit listrik kembali dioperasikan untuk mengurangi biaya pemakaian listrik karena bagaimanapun pembangkit batu bara lebih murah dibandingkan menggunakan sumber energi lain seperti gas.

 

Namun, pasokan batu bara diperkirakan akan semakin bertambah pada bulan-bulan mendatang yang bisa menurunkan harga batu bara. Mengutip S&P Global, China menjual kembali batu bara yang telah diimpornya dari Indonesia karena lemahnya permintaan domestik. Trader dari China dikabarkan absen dalam perdagangan batu bara pekan lalu karena pasokan yang mencukupi.

 

"Ini tidak bagus karena harga bisa jatuh. Permintaan dari China kini sangat lemah. Pembatasan mobilitas karena Covid-19 juga membuat pengiriman barang antre," tutur salah satu produsen batu bara Indonesia, seperti dikutip dari S&Pglobal.com.

 

Pasokan batu bara China dari Rusia juga masih melimpah. Dikutip dari Hellenicshippingnews.com, China mengimpor batu bara jenis coking dari Rusia sebanyak 1,37 juta ton di April 2022. Jumlah tersebut melonjak dibandingkan Maret 200 yakni 922.673 ton atau pun April 2021 (750.000 ton).

 

Impor dalam jumlah besar tersebut juga kini menjadi persoalan karena pembatasan mobilitas membuat permintaan dari industri baja melemah drastis. Sebagai catatan, China menerapkan kebijakan lockdown di sekitar 45 kota sejak Maret 2022 yang membuat aktivitas ekonomi negara tersebut melemah.

 

"Konsumsi China sangat lemah sekarang, profit margin di pabrik peleburan sangat tipis sehingga mereka enggan melebur terlalu banyak," tutur salah seorang trader di Shandong, seperti dikutip Hellenicshippingnews.com.

 

Sementara itu, India sudah mengizinkan perusahaan tambang batu bara untuk meningkatkan kapasitas produksi hingga 50% untuk memenuhi pasokan. Vietnam juga sudah meminta Vinacomin, perusahaan milik negara produsen batu bara, untuk meningkatkan produksi. Pada Januari-April, perusahaan tersebut sudah memproduksi batu bara sebanyak 14,9 juta ton, naik 19% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

 

Peningkatan produksi batu bara dari India dan Vietnam ini akan menambah pasokan batu bara global ke depan sehingga pasar sedikit melonggar.

 

 

TIM RISET CNBC INDONESIA

Related Regular News: