Larangan Impor Eropa Embargo Kipasi Lagi Batu Bara

Sumber: https://koran.bisnis.com/read/20220407/442/1520074/larangan-impor-eropa-embargo-kipasi-lagi-batu-bara

 

Bisnis, JAKARTA — Harga batu bara di Asia melonjak karena langkah Eropa melarang impor bahan bakar itu dari Rusia. Hal itu akan mendatangkan tantangan baru pada pasokan global.

 

Rusia adalah pemasok batu bara termal terbesar ketiga dunia dan mendominasi penjualan ke negara-negara Eropa, yang berarti akan ada peningkatan persaingan di pasar internasional yang sudah mengalami lonjakan harga yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat perang di Ukraina.

 

Batu bara berjangka Newcastle untuk April melonjak 6,4% menjadi US$281 per ton pada Selasa (5/4) waktu setempat, kenaikan terbesar dalam hampir dua pekan, menurut ICE Futures Europe. Harga siap memperpanjang kenaikan karena konsumen Eropa meningkatkan perburuan di pasar lain sebagai alternatif batu bara Rusia.

 

Dilansir Bloomberg, Rabu (6/4), Hendra Sinadia, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia, mengatakan penambang di Indonesia, eksportir utama batu bara untuk pembangkit listrik, telah didekati oleh beberapa pembeli potensial dari negara-negara Eropa, termasuk Italia, Spanyol, Polandia dan Jerman.

 

Namun, tidak jelas apakah pemasok akan dapat meningkatkan pengapalan karena mereka memiliki kapasitas cadangan yang terbatas dan diamanatkan untuk memprioritaskan permintaan lokal (DMO) terlebih dahulu.

 

Produsen di Australia, eksportir utama lainnya, telah memberi isyarat mereka memiliki kemampuan terbatas untuk meningkatkan penjualan ke Eropa.

 

“Kurangnya investasi dalam kapasitas baru, dan permintaan yang relatif kuat di Asia membuat pasar kekurangan untuk mengisi celah yang tersisa akibat pemotongan ekspor Rusia,” tulis ahli strategi Australia & Selandia Baru Banking Group Ltd Brian Martin dan Daniel Hynes dalam catatan kemarin.

 

Menurut mereka, Rusia menyumbang sekitar 18% dari ekspor global pada 2020. Saham perusahaan tambang batu bara New Hope Corp melonjak 6,9% di perdagangan Sydney kemarin, sejalan dengan Whitehaven Coal Ltd yang naik 5,5%, dan Yancoal Australia Ltd 4,8%.

 

Pasar yang ketat untuk batu bara dan gas alam telah menciptakan kekurangan energi pada saat angin dan air tidak dapat diandalkan di beberapa daerah. Eropa dan Asia telah terkena dampak terburuk, dengan harga yang meroket, sementara ada ancaman kekurangan listrik di negara-negara berkembang seperti Pakistan.

 

Menurut David Lennox, analis sumber daya di Fat Prophets di Sydney, peningkatan permintaan listrik dan kekurangan pasokan batu bara baru akan menjaga harga tetap tinggi.

 

Bahkan sebelum sanksi baru, perusahaan energi di Eropa dan beberapa bagian Asia menghindari pembelian tambahan bahan bakar Rusia, dan mencari alternatif, untuk mengantisipasi tindakan pemerintah lebih lanjut terhadap Moskow.

 

SEJUMLAH ALTERNATIF

 

Menurut riset Morgan Stanley, pembangkit listrik dan pedagang Eropa kemungkinan besar akan meningkatkan impor dari Afrika Selatan, Kolombia, Amerika Serikat, dan Australia.

 

“Mengonfigurasi ulang arus perdagangan global dalam skenario seperti itu akan memakan waktu dan meningkatkan biaya,” kata bank tersebut.

 

Uni Eropa, serta Inggris, sedang mencari cara untuk mengurangi ketergantungan mereka pada pasokan energi Rusia. Dengan blok itu juga berusaha untuk mengekang impor gas dari pemasok utamanya, langkah tersebut kemungkinan akan meningkatkan tekanan pada pasokan batu bara dari eksportir lain.

 

“Mencari pasokan alternatif akan sulit, tetapi bukan tidak mungkin,” ujar Brian Ricketts, Sekjen kelompok lobi Euracoal di Brussels.

 

Dengan harga karbon dan gas juga meningkat, tahun depan listrik di Jerman bertambah sebanyak 2,2% menjadi 189 euro per megawatt-jam, karena harga bahan bakar yang lebih tinggi siap untuk meningkatkan biaya pembangkitan listrik.

 

Namun, bahkan setelah reli terakhir, profitabilitas untuk menghasilkan listrik di pembangkit listrik tenaga batu bara Jerman tetap secara signifikan lebih tinggi daripada di pembangkit listrik tenaga gas.

 

Harga batu bara Asia telah turun dari rekornya selama beberapa pekan terakhir, akibat penguncian Covid di China—konsumen utama —membatasi aktivitas pabrik dan memangkas permintaan bahan bakar itu. Meskipun demikian, harga patokan emas hitam masih lebih dari 2,5 kali lebih tinggi dari tahun lalu. Batu bara berjangka termal di Zhengzhou naik 1,2% pada pukul 11.15 waktu setempat.

 

Impor batu bara China dari Rusia pada Maret hanya 50% dari bulan sebelumnya, menurut data pengiriman yang dikumpulkan oleh Bloomberg. Pembicaraan antara importir China dan penambang Rusia bulan lalu tentang potensi peningkatan perdagangan difokuskan untuk mengatasi kekurangan kapasitas transportasi, kualitas batu bara, dan hambatan pembayaran lintas batas, menurut Asosiasi Transportasi dan Distribusi Batubara China.

 

Minyak mentah, bahan bakar substitusi batu bara, ikut memanas. Mengutip data Bloomberg pukul 19.50 WIB kemarin, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 1,2% ke US$103,19 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent naik 0,9% persen ke US$107,59 per barel.

 

Tim Riset Monex Investindo Futures (MIFX) menyebutkan ketegangan Rusia-Ukraina yang meninggi terkait saling tuduh pembantaian di kota Bucha dan sanksi baru dari Uni Eropa terhadap batu bara Rusia, kabar penurunan permintaan minyak mentah di AS, dan laporan kenaikan cadangan minyak mentah AS sempat mengerek turun harga minyak.

 

“Namun kekhawatian pasar terhadap kelangkaan bahan bakar di tengah embargo minyak dari Rusia sebagai produsen terbesar ke-2 untuk minyak mentah dunia, membatasi pergerakan turun harga minyak dan menopang naik hari ini,” tulisnya dalam riset harian.

 

Fokus pasar selain terhadap perkembangan sanksi ekonomi terhadap Rusia, laporan cadangan minyak mentah AS versi EIA menjadi peluang penggerak harga minyak selanjutnya.

 

MIFX memprediksikan harga minyak berpotensi dibeli menguji resistance US$105,6 bila naik ke atas level US$104 per barel. Sementara itu, jika bergerak turun ke bawah level US$101,6, minyak berpeluang dijual di uji support US$99,85 per barel.

Related Regular News: