Harga Batu Bara Naik 2,6%, Rekor Tertinggi dalam 10 Hari

Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/market/20220405054907-17-328766/harga-batu-bara-
naik-26-rekor-tertinggi-dalam-10-hari

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara secara perlahan mulai menguat kembali. Pada
perdagangan Senin (1/4/2022), harga batu bara kontrak Mei ditutup di level US$ 258,65 per ton,
menguat 2,64% dibandingkan hari sebelumnya. Level harga US$ 258,65 per ton adalah yang
tertinggi sejak 25 Maret 2022.

Harga batu bara sempat jatuh beruntun pada 25-29 Maret 2022 sebelum akhirnya menanjak
perlahan pada 30 Maret 2022. Dalam sepekan harga batu sudah menguat 5,32% tetapi masih
anjlok 36,46% selama sebulan. Dalam setahun, harga bara sudah melesat 181,44%

Kenaikan harga batu bara salah satunya dipicu oleh membaiknya harga minyak mentah dunia.
Harga minyak mentah Brent pada hari ini menguat 3% ke level US$ 107,53 per barel.
 

Pekan kemarin, harga minyak Brent anjlok sekitar 13% setelah Presiden AS Joe Biden
merencanakan untuk mengeluarkan cadangan minyak dari persediaan nasional sebesar 1 juta
barel per hari selama 6 bulan atau sekitar 180 juta barel.

Perbaikan harga batu bara juga disebabkan belum meredanya konflik Rusia-Ukraina serta
kekhawatiran sanksi baru terhadap Rusia. Terbaru, pemerintah Inggris menyerukan dunia untuk
menambah sanksi ekonomi terhadap Rusia atas serangan militer Moskow ke Ukraina. Hal ini
disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) Inggris, Liz Truss, Senin (4/4/2022), di
sela-sela kunjungannya ke tetangga Ukraina, Polandia.

Analis Industri Bank Mandiri Ahmad Zuhdi mengatakan harga batu bara masih akan
dipengaruhi situasi Rusia-Ukraina. "Tapi balik lagi, kita masih harus amati perkembangan
perang ini, semakin ke arah damai menurut saya akan semakin stabil dan cenderung menurun,"
tutur Zuhdi, kepada CNBC Indonesia.

Chief executive Climate Energy Finance Corporation Stephen Galilee mengatakan harga batu
bara masih tetap tinggi karena besarnya permintaan akan komoditas tersebut.

"Permintaan dari India, Thailand, Korea dan Jepang masih tinggi. Ini adalah insentif bagi
perusahaan batu bara untuk terus beropeasi," tutur Galilee, seperti dikutip dari ABC.

Related Regular News: