Hati-hati, Harga Batu Bara Masih Susah Naik Minggu Ini!

Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/market/20220404055629-17-328378/hati-hati-harga-batu-bara-masih-susah-naik-minggu-ini

 

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara turun hampir 5% pada pekan lalu. Harga si batu
hitam diperkirakan masih bergerak melemah minggu ini karena sejumlah faktor, terutama
turunnya harga minyak mentah dunia.

Pada perdagangan akhir pekan lalu, harga batu bara memang ditutup menguat 0,26% di level
US$ 252,00/ton. Namun secara keseluruhan, dalam sepekan harga batu bara anjlok 4,6% point
to point. Dalam sebulan, harga batu bara masih menguat tipis 0,2% dan melonjak 174,2%
dalam setahun.

Analis Industri Bank Mandiri Ahmad Zuhdi mengatakan harga batu bara masih susah naik pada
pekan ini. Harga batu bara juga tidak akan bergerak terlalu volatile seperti saat awal perang
Rusia-Ukraina akhir Februari lalu.

Sebagai catatan, pada perdagangan pekan lalu, harga batu bara bergerak di kisaran US$
251/ton sampai US$ 258,25/ton atau hanya US$ 7,25 saja. Kisaran mingguan tersebut adalah
yang terendah sepanjang tahun ini.


"Batubara sepekan ke depan less likely untuk melonjak tinggi lagi. Mungkin malah cenderung
turun karena minyak juga dapat tekanan dengan janji peningkatan supply dari Amerika Serikat
(AS). Kalau batu bara masih ngekor ke minyak, akan cenderung menurun (harganya)," tutur
Zuhdi, kepada CNBC Indonesia.

Harga minyak mentah Brent pada hari ini ambles ke level US$ 103,57 per barel. Level tersebut
anjlok sekitar 14% dibandingkan pekan sebelumnya.

Harga minyak merosot tajam setelah Presiden AS Joe Biden merencanakan untuk
mengeluarkan cadangan minyak dari persediaan nasional sebesar 1 juta barel per hari selama
6 bulan atau sekitar 180 juta barel. Pengeluaran cadangan minyak sebesar itu adalah yang
tertinggi sejak 1974.

Menyusul AS, Badan Energi Internasional (IEA) juga sepakat untuk mengeluarkan cadangan
minyak mereka meskipun kuotanya belum diumumkan.

Zuhdi menambahkan pelemahan batu bara juga didukung oleh langkah Rusia untuk
memberikan potongan harga kepada pembeli mereka. Langkah tersebut akan menurunkan
kekhawatiran mengenai kekurangan pasokan. Namun, dia mengingatkan harga batu bara juga
masih akan sangat dipengaruhi situasi perang Rusia-Ukraina.

Perang Rusia-Ukraina belum menunjukkan tanda-tanda berakhir meskipun sudah ada
pembicaraan damai, Terbaru, rudal Rusia menggempur infrastruktur penting yang diperkirakan

adalah depot bahan bakar di dekat kota Odesa, Ukraina, akhir pekan lalu. Odesa adalah kota
pelabuhan di Laut Hitam yang juga menjadi pangkalan utama angkatan laut Ukraina.

"Tapi balik lagi, kita masih harus amati perkembangan perang ini, semakin ke arah damai
menurut saya akan semakin stabil dan cenderung menurun," imbuhnya.

Direktur Executive Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia
mengatakan, ke depan, harga batu bara kemungkinan akan turun. Namun, harga emas hitam
masih lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.

"Volalitas harga yang naik turun itu sesuatu hal yang biasa. Ke depannya, iya bisa saja harga
bergerak turun. Tapi overall rerata harga di 2022 kemungkinan akan lebih baik dibandingkan
rerata harga di 2021," tutur Hendra, kepada CNBC Indonesia..

Pelemahan batu bara juga dipicu kekhawatiran melemahnya perdagangan dan perekonomian
global. Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) Ngozi Okonjo-Iweala, akhir
pekan lalu, memperkirakan perdagangan global kemungkinan hanya akan tumbuh ke 2,5%
pada tahun ini.

Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya yakni 4,7%. Persoalan
pasokan menjadi penyebab utama koreksi proyeksi tersebut.

Related Regular News: