Simak Nih, Apa Kata Hilmi Panigoro Masa Depan Industri Energi Bagi Indonesia

Sumber: https://www.ruangenergi.com/simak-nih-apa-kata-hilmi-panigoro-masa-depan-industri-energi-bagi-indonesia/

 

Market share minyak dan gas (migas) tetap mendominasi market energi di dunia. Walaupun pada saat batubara (coal) berubah menjadi migas,sampai hari ini sudah 100 tahun lebih, coal market sharenya menurun.tapi volumenya tidak turun.

Jadi memang migas mendominasi  market share yang lebih besar ketimbang coal. Sudah 100 tahun lebih keadaan seperti itu dan membentuk ekonomi yang sangat tergantung kepada migas yang sizenya US$ 86 triliun dimana lebih 80 persen bergantung pada fosil fuel.

Demikian disampaikan CEO PT Medco Energi Internasional Tbk Hilmi Panigoro dalam diskusi yang digelar Demarga’90-Sesi#100 berjudul: Masa Depan Industri Energi Bagi Indonesia pada 13 Februari 2022 lalu.

“Kita sekarang masuk di abad ke-21, terutama di 10 tahun terakhir ini begitu besar pressure agar kita masuk ke renewable energy. Kenapa? Dekarbonisasi. Mungkin Anda semua mendengar kesimpulan-kesimpulan  dari hasil studi panel PBB untuk perubahan iklim, UNFCC,tidak kurang dari Sekjen-nya sendiri yang mengumumkan bahwa dunia ini masuk Code Red, This is an emergency fossil fuel investments has to stopped right now. Other wise, diakhir abad ini dunia meningkat temperaturenya di atas 2 derajat dan itu artinya catastrophic,”urai Hilmi.

Hilmi menuturkan, kita semua concern bahwa level CO2 ini,sejak revolusi industri memang anomalous ya. Kalau yang dulu sampai 300 ppm sekarang 400 ppm. Itu memang concerning kita, tapi sekarang bagaimana caranya agar itu semua bisa dikurangi.

“Banyak sekali caranya, tapi sekarang yang jadi masalah itu begitu besar tekanan kepada fosil fuel, terutama di sisi supply, sementara itu demandnya tidak berubah. Jadi kalau Anda lihat sekarang, harga gas gila-gilaan di pasar, harga minyak sudah level 90, saya takutnya tahun depan 100 bisa lewat itu (US$100). Kenapa? Karena hampir seluruh lapangan migas di dunia sudah mature, and declining. Kita bicara ini non renewable ya, kita harus selalu ganti dengan reserve baru ya. Kalau investasi itu berhenti, dia akan decline..that’s what happen today,” tutur Hilmi.

Hilmi ungkapkan, dibandingkan tahun 2015, hari ini Capex (capital expenditure) untuk eksplorasi dan produksi migas ini turun dari setengah. Akibatnya, ada problem di supply. Apakah demand nya berubah? Tidak berubah walau sekarang ada renewable.

“Kalau kita bicara renewable coba kita perhatikan dulu angka-angka di dunia hari ini. Seperti saya katakandi depan studi saya bersama Wood Mackenzie, saya jelaskan kalau demand tidak berubah seperti sekarang dan kita beri asumsi electric vehicle (EV)  berkembang sangat cepat, accelerate note, lalu kita bikin skenario seperti ini,ya tim-tim konsultan, dua puluh tahun ke depan apa yang terjadi?  Ternyata demand untuk batubara itu flat untuk 20 tahun ke depan, enggak turun,” papar Hilmi.

Bagaimana dengan minyak bumi? Orang selalu berpikir bahwa ketika EV sudah dipakai maka minyak bumi sudah tidak dipakai lagi.

“I can tell you right now, dengan case yang mengasumsikan electric vehicle mengalami akslerasi di seluruh dunia, minyak masih tumbuh demandnya by 1 persen per tahun sampai 2040. Kenapa? Untuk transport memang turun karena ada EV. Tapi untuk petrokimia, untuk aviasi, untuk industri masih naik terus. Baju yang Anda pakai, sofa yang Anda duduki sekarang all of them petrochemical product,” beber Hilmi dihadapan rekannya alumni ITB.

Hilmi menuturkan lagi,dengan asumsi ini semua, minyak masih dibutuhkan sampai 2040. Dan yang tidak kalah penting gas, malah menjadi primadona.

“Karena sifat intermittency dari wind and solar maka gas ini dibutuhkan sebagai base load dari pembangkit listrik yang sekali-kali dinyalakan pada saat wind and solar tidak ada.Saya kasih illustrasi lah, kalau di California atau Texas, yang sudah begitu canggih Grid nya, sehingga distribusi listrik mulai dari pembangkit sampai end user, tiba-tiba terjadi snow storm selama dua minggu, that’s it. Dia harus punya base load yang harus bisa dinyalakan. Apa itu? Ya gas (pembangkit listrik tenaga gas/PLTG),” papar Hilmi dengan raut wajah serius.

 

Related Regular News: