Riset: China Setop Investasi Batu Bara Tapi Danai Proyek Migas

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20220210175243-85-757674/riset-china-setop-investasi-batu-bara-tapi-danai-proyek-migas

 

China menghentikan investasi pada sektor batu bara pada 2021. Namun, Negeri Tirai Bambu itu masih mendanai proyek bahan bakar lain yang berasal dari fosil.
Hal itu terungkap dalam laporan riset lembaga think tank The Green Finance & Development Center (GFDC) Fudan University 'Brief: China Belt and Road Initiative (BRI) Investment Report 2021'.

Selain itu, China secara bersamaan memperluas jangkauannya pada energi terbarukan dengan menggelontorkan US$6,3 miliar untuk pendanaan energi hijau dan investasi pada negara-negara BRI.

Namun, sayangnya China masih memberikan pendanaan pada energi fosil lainnya. China mengeluarkan sekitar US$10,9 miliar untuk minyak dan gas pada 2021, jauh lebih besar dari tahun sebelumnya.

Negara yang menerima pendanaan untuk sektor ini kebanyakan adalah negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara, terutama Iraq.

Indonesia diketahui sebagai negara penerima investasi sektor energi terbesar kedua dari BRI tahun lalu. Kendati demikian, laporan tersebut menyebutkan di tahun 2022, China tetap melanjutkan investasi pada proyek yang lebih kecil dan mudah untuk di implementasi, seperti proyek surya dan angin, sembari mengembalikan kerugian dari proyek - proyek seperti batu bara.

"Dengan bertambahnya kesadaran dari investor China dan perusahaan asuransi terhadap risiko lingkungan dari PLTU batu bara dan sinyal jelas dari pemerintah untuk
mendukung pengembangan energi hijau di pasar luar negeri, saya yakin bahwa banyak proyek PLTU yang sudah diumumkan akan dikaji kembali dan akan kesulitan mendapatkan pendanaan" ujar Christoph Wang, penulis laporan sekaligus Director of the Green Finance and Development Center at Fudan University dalam siaran persnya, Kamis (10/2).

Misalnya, PLTU batu bara berkekuatan 700 MW di Bosnia dan Herzegovina, Ugljevik III. Proyek ini disebut sedang mengalami kesulitan dalam mendapatkan pendanaan dari bank China sejak bulan lalu.

Christoph melanjutkan, sudah ada kesadaran dari investor China dan perusahaan asuransi terhadap risiko lingkungan dari PLTU batu bara. Ia juga melihat sinyal dari pemerintah Xi Jin Ping untuk mendukung pengembangan energi hijau di pasar luar negeri.

"Saya yakin bahwa banyak proyek PLTU yang sudah diumumkan akan diulas kembali dan akan kesulitan mendapatkan pendanaan," katanya.

Sementara Wawa Wang, Director Just Finance International mengatakan pendanaan China terus-menerus memperburuk krisis iklim di Balkan Barat, kawasan di mana pinjaman China dapat memperluas proyek batu bara baru.

Menurutnya, penerima keuntungan terbesar adalah perusahaan milik negara yang membangun proyek-proyek tersebut. "Dunia menunggu bank - bank China untuk mengikuti jejak komunitas internasional untuk menghentikan pendanaan untuk proyek batu bara internasional pada 2021," kata Wang.

Kemudian Norm Waite, Energy Finance Analyst at Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) mengungkapkan panduan Kementerian Lingkungan dan Ekologi & Kementerian Bisnis China yang mempromosikan pembangunan hijau ke dalam Amdal pada fase pengadaan ke konstruksi diharapkan dapat meningkatkan proyek energi hijau.

Panduan ini akan berlaku untuk proyek apapun sehingga dapat mempromosikan pendanaan hijau secara lebih luas pada proyek - proyek ramah lingkungan.

Untuk energi terbarukan, Norm menyampaikan China masih harus membuktikan diri sebagai pengembang untuk tenaga angin dan solar. Peningkatan kapasitas domestik dalam beberapa tahun terakhir telah meningkatkan keahlian domestik dalam energi surya dan angin offshore, sehingga sudah tidak perlu butuh banyak waktu lagi.

"Proyek BRI China merupakan wadah terbaik bagi China untuk membuktikan diri sebagai yang terdepan pada pembangunan energi hijau," kata Norm.

Related Regular News: