Ada Bencana Lebih Ngeri dari Covid! Batu Bara Biang Keroknya?

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/20210910091457-17-275179/ada-bencana-lebih-ngeri-dari-covid-batu-bara-biang-keroknya

 

Harga batu bara kembali turun. Setelah mencatat rekor tertinggi, harga komoditas ini menjadi fluktuatif.

Kemarin, harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) tercatat US$ 175,15/ton. Turun 0,79% dibandingkan sehari sebelumnya.

Pada 3 September 2021, harga batu bara mencapai rekor tertinggi setidaknya sejak 2008 di US$ 178,75/ton. Selepas itu, harga si batu hitam menjadi tidak keruan, naik-turun dengan cepat.

Selain itu, ada sentimen negatif yang memayungi harga baru bara. Dalam wawancara bersama Reuters, Penasihat Perubahan Iklim di Kementerian Keuangan Amerika Serikat (AS) John Morton menegaskan program percepatan penutupan pembangkit listrik bertenaga batu bara adalah hal yang amat mendesak.

Morton mendukung skema Bank Pembangunan Asia (ADB) yang ingin segera 'mempensiunkan' pembangkit batu bara. Sebab, target penurunan emisi karbon seperti amanat Perjanjian Paris tidak akan bisa tercapai selama pembangkit listrik batu bara masih beroperasi.

"Membiayai upaya penutupan sebuah kegiatan usaha tidak ada dalam DNA institusi maupun pemerintahan mana pun. Namun ini adalah hal yang sangat penting," tegas Morton.

Perubahan iklim adalah ancaman yang nyata. Pemanasan global membuat intensitas badai berkekuatan dahsyat jadi sering terjadi, seperti Badai Ida di AS baru-baru ini.

Perubahan iklim juga membuat permukaan air laut naik dengan cepat. Ini membuat kota-kota seperti Jakarta terancam tenggelam.

Batu bara dituding sebagai salah satu penyebab pemanasan global karena meninggalkan jejak karbon yang luar biasa. Dengan kesadaran akan lingkungan dan perubahan iklim yang semakin tinggi, batu bara akan semakin terpojok dan masa depannya suram.

Related Regular News: