Ada Aksi Keruk Cuan, Harga Batu Bara Anjlok hampir 5% Sepekan

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/20210822113318-17-270243/ada-aksi-keruk-cuan-harga-batu-bara-anjlok-hampir-5-sepekan

 

Harga kontrak berjangka (futures) batu bara ambles dalam sepekan terakhir (16-20 Agustus), seiring investor mulai melakukan aksi ambil untung (profit taking) setelah harga batu bara melonjak tinggi akhir-akhir ini.

Menurut data Refinitiv, dalam seminggu terakhir harga batu bara Newcastle anjlok 4,97% ke posisi US$ 159,75/ton. Pada Kamis (19/8) dan Jumat (20/8) lalu investor mengeruk cuan cukup banyak hingga membuat harga batu hitam ini turun masing-masing 2,39% dan 2,29%.

Harga batu bara memang melonjak signifikan pada tahun ini. Dalam sebulan harga batu bara masih naik 3,94%, sementara secara year to date (ytd) 'terbang' 95,41%.

Bahkan, pada Senin (16/8) lalu harga batu bara sempat mencapai level US$ 169,75/ton, rekor tertinggi setidaknya sejak 2008.

Permintaan yang kuat menjadi warna dominan keperkasaan harga batu bara akhir-akhir ini. Di China, produksi dalam negeri belum bisa memenuhi permintaan yang meningkat pesat.

Pada Juli 2021, produksi batu bara China tercatat 310 juta ton, turun 3,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Dibandingkan Juli 2019, produksi turun nyaris 7%.

Ini membuat China mau tidak mau harus mengimpor batu bara lebih banyak. Bulan lalu, impor batu bara Negeri Panda adalah 30,18 juta ton, melesat 15,6% yoy.

Tidak hanya China, Korea Selatan pun membukukan peningkatan permintaan.

Pada Juli 2021, otoritas kepabeanan Negeri Ginseng mencatat impor batu bara termal mencapai 11,6 juta ton. Melonjak 25% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Tingginya suhu udara pada musim panas tahun ini membuat kebutuhan penyejuk ruangan meningkat. Mengutip Korea Herald, Badan meterologi Korea memperkirakan suhu udara bisa mencapai 40 derajat celcius pada bulan lalu.

"Rekor sebelumnya adalah 39,6 derajat celcius di Seoul yang terjadi pada 1 Agustus 2018. Berdasarkan pengamatan Automatic Weather Station (AWS), kemungkinan suhu udara bisa 1-3 derajat celsius lebih panas," tegas Ban Ki-seong, Kepala K Weather.

Korea Selatan banyak mengimpor batu bara dari Australia. Negeri Kanguru kehilangan China sebagai pasar batu bara terbesarnya, karena hubungan Canberrra-Beijing yang merenggang. Namun Australia bisa menemukan pasar lain, salah satunya Korea Selatan.

Namun, tingginya impor batu bara Korea Selatan dari Australia memakan korban. Permintaan batu bara dari Indonesia dan Rusia jadi berkurang.

"Larangan impor batu bara dari Australia membuat China mendatangkan dari Indonesia dan Rusia. Namun permintaan batu bara Australia meningkat di negara selain China, termasuk Korea Selatan," sebut Toby Hassall, Analis Refinitiv.

 

TIM RISET CNBC INDONESIA

Related Regular News: