Produksi batubara Adaro Energy (ADRO) mengalami penurunan akibat La Nina

Sumber : https://newssetup.kontan.co.id/news/produksi-batubara-adaro-energy-adro-mengalami-penurunan-akibat-la-nina

 

Di awal tahun ini atau sampai dengan Maret 2021, produksi batubara PT Adaro Energy Tbk (ADRO) secara konsolidasi mengalami penurunan akibat La Nina. Manajemen ADRO mengatakan, La Nina yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia menyebabkan hujan lebat dan gelombang tinggi. Oleh karenanya, menghambat aktivitas logistik dan pemuatan kapal. 

Melansir laporan di kuartal I 2021, produksi batubara ADRO menurun 11% yoy menjadi 12,87 juta ton. Adapun volume penjualan juga kontraksi hingga 13% yoy atau menjadi 12,59 juta ton. Seiring penurunan produksi dan penjualan, pendapatan usaha ADRO tercatat senilai US$ 692 juta atau turun 8% yoy. 

Penurunan volume produksi batubara ternyata tidak dialami seluruh entitas perusahaan ADRO. Perinciannya, PT Adaro Indonesia (AI) sebagai perusahaan pertambangan terbesar dalam Grup Adaro, mencatatkan volume produksi batubara sebanyak 10,80 juta ton atau turun 15% yoy pada kuartal I 2021. Adapun di sepanjang 2020, Adaro Indonesia merealisasikan produksi batubara sebesar 46,75 juta ton atau turun 9% yoy. 

Kemudian, produksi batubara di Balangan Coal Companies pada 1Q21 mencapai 1,18 juta ton, atau naik 2% yoy. Selanjutnya, produksi batu bara Adaro Metcoal Companies (AMC) pada tiga bulan pertama tahun ini mencapai 0,65 juta ton, atau naik 119% yoy dari 0,30 juta ton pada periode yang sama di tahun sebelumnya. 

Penjualan batubara AMC pada periode ini mencapai 0,51 juta ton, atau naik 66% yoy. Manajemen ADRO menjelaskan batubara Lampunut, produk batu bara kokas keras dari konsesi Maruwai, terus diterima baik oleh para pelanggan domestik hingga China dan Jepang. 

Adapun produksi batubara dari Mustika Indah Permai (MIP) mencapai 0,22 juta ton, atau naik 20% yoy. Penjualan batubara MIP untuk periode ini tercatat 0,24 juta ton,atau naik 49% yoy. 

Terakhir, volume produksi batu bara Kestrel Coal Mine (Kestrel) yang dapat dijual tercatat mencapai 1,33 juta ton, atau turun 30% dari kuartal I 2020. Penjualan batu bara pada periode ini mencapai 1,30 juta ton, yang setara dengan penurunan 34% yoy. 

Kestrel menjual batu bara kokas keras terutama ke para pelanggan besar di pasar Asia dengan India, Korea Selatan dan Jepang sebagai tiga tujuan penjualan tertingginya. Di sepanjang tahun ini, target produksi batu bara Kestrel yang dapat dijual ditetapkan sebesar 5,74 juta ton.  

Febriati Nadira, Head of Corporate Communication Division Adaro Energy mengatakan ADRO melihat outlook batubara ke depan masih akan menghadapi tantangan. 

"Maka dari itu, kami akan  terus  memaksimalkan upaya untuk terus fokus terhadap  keunggulan operasional bisnis inti, meningkatkan efisiensi dan produktivitas operasi, menjaga kas dan mempertahankan posisi keuangan yang solid di tengah situasi sulit yang berdampak terhadap sebagian besar dunia usaha," jelasnya kepada Kontan.co.id, Selasa (29/6). 

Febrianti menjelaskan Adaro akan terus mengikuti perkembangan pasar dengan tetap menjalankan kegiatan operasi sesuai rencana di tambang-tambang milik perusahaan. Tentu  berfokus untuk mempertahankan marjin yang sehat dan kontinuitas pasokan ke pelanggan. "Adaro telah memiliki kontrak dengan para customer dan akan memenuhi kebutuhan sesuai kontrak," kata dia. 

Asal tahu saja, pada akhir tahun 2020, Adaro Grup memiliki lebih dari 4 miliar ton sumber daya dan 1 miliar cadangan batubara.

Related Regular News: