Harga Batu Bara Masih Tinggi, tapi Mulai Kalem, Pertanda Apa?

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/20210622095047-17-254966/harga-batu-bara-masih-tinggi-tapi-mulai-kalem-pertanda-apa

 

Koreksi harga pada perdagangan Senin kemarin (21/6) tak lantas membuat batu bara keluar dari tren bullish-nya. Harga batu bara masih sangat kuat di atas US$ 120/ton dan kemungkinan masuk periode konsolidasi.

Untuk kontrak batu bara termal berjangka ICE Newcastle Juli yang sering ditransaksikan, harganya mengalami penurunan 0,16% kemarin. Si batu hitam kini berada di US$ 123,3/ton. Harga masih berada di rentang tertingginya dalam hampir satu dekade terakhir. 

Di sepanjang tahun 2021, harga batu bara sudah naik signifikan. Jika dibandingkan dengan awal tahun, harga batu bara sudah naik lebih dari 50%. Namun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu harga naik dua kali lipat. 

Ditambah dengan adanya kecenderungan pengetatan moneter oleh bank sentral AS di tahun-tahun mendatang yang berarti mengerem laju pertumbuhan ekonomi sehingga berdampak pada permintaan terhadap komoditas, harga batu bara tetap solid.

Jika membahas batu bara maka kiblatnya haruslah ke Asia. Di Benua Kuning China dan India menjadi negara konsumen sekaligus importir terbesar. Saat India mengalami lockdown akibat gelombang kedua Covid-19, ekonomi China justru bergeliat.

Permintaan batu bara di India menurun. Namun di China karena faktor ketatnya pasokan di tengah musim permintaan yang tinggi membuat harga batu bara domestiknya melesat. 

China yang membuka keran impor membuat permintaan batu bara terserap ke sana. Harga pun terkerek naik. Namun hubungan China dan Australia yang tak akur membuat pasar kawasan Asia Pasifik berubah. 

Selain China, permintaan di kawasan negara importir lain seperti Jepang dan Korea Selatan juga masih solid sehingga mendukung harga batu bara. 

Australia kini merapat ke India, sementara China harus membayar lebih mahal batu bara kokas yang banyak diimpornya dari Australia. Meskipun momentum pandemi dimanfaatkan sebagian negara untuk mereformasi kebijakan energinya dengan beralih dari energi fosil ke energi yang ramah lingkungan, tetapi batu bara masih menjadi salah satu sumber energi yang paling murah dan efisien. 

Reformasi kebijakan bauran energi tetap membutuhkan waktu dan tak bisa langsung dilaksanakan dalam periode yang singkat karena ada aspek kultural, teknologi dan ekonomi yang seringkali menjadi tantangan. 

 

TIM RISET CNBC INDONESIA

Related Regular News: