Harga Batu Bara Sulit Goyang Walau Dijegal di Sana-sini

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/20210617104527-17-253818/harga-batu-bara-sulit-goyang-walau-dijegal-di-sana-sini

 

Ramai-ramai aksi menjegal batu bara karena diklaim tak ramah lingkungan tak lantas membuat harga si batu legam terjun bebas. Didukung dengan fundamental yang kuat harga batu bara malah merangkak naik lagi. 

Setelah negara-negara kaya yang tergabung dalam G7, kini giliran China sebagai konsumen batu bara terbesar di dunia yang beraksi. China berupaya untuk mengurangi emisi karbon. Salah satunya dengan cara mebatalkan investasi kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara luar negeri. 

"Jumlah kapasitas yang dibatalkan sejak 2017 adalah 4,5 kali lebih tinggi dari jumlah yang masuk ke konstruksi selama periode tersebut," tulis Reuters berdasarkan riset Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih (Crea).

Crea mengatakan sejak 2016, 10 bank teratas yang terlibat dalam pembiayaan batu bara global adalah orang China. Sekitar 12% dari semua pembangkit listrik batu bara yang beroperasi di luar China dapat dikaitkan dengan bank, utilitas, produsen peralatan, dan perusahaan konstruksi China.

Tetapi meskipun 80 gigawatt kapasitas yang didukung China masih dalam proses, banyak proyek dapat menghadapi kemunduran lebih lanjut. Laporan itu mengklaim hal tersebut akibat perlawanan public yang meningkat dan pembiayaan menjadi lebih sulit.

China memang sedang menyusun kebijakan yang memungkinkannya membawa emisi gas rumah kaca dari puncaknya di 2030 dan menjadi netral karbon pada tahun 2060. Xi Jinping pada April sempat mengatakan akan mulai memotong konsumsi batu bara hingga 2026.

Namun kenyataannya harga batu bara malah ditutup menguat 2% pada perdagangan kemarin. Harga kontrak batu bara termal ICE Newcastle yang aktif diperdagangkan di pasar kini berada di US$ 122,1/ton.

Bagaimanapun juga peralihan dari batu bara ke energi yang lebih ramah lingkungan bukan persoalan mudah. Bagi negara-negara barat seperti AS dan Eropa memang konsumsinya terus menurun.

Namun bagi negara-negara di kawasan Asia terutama negara berkembangnya batu bara masih menjadi salah satu bahan bakar yang lebih terjangkau. Beralih dari batu bara ke energi alternatif yang lebih sustainable butuh waktu dan investasi yang besar.

Dalam kondisi krisis seperti sekarang ini banyak negara yang memanfaatkan momentum untuk mereformasi kebijakan energinya. Namun tetap saja pasar batu bara di kawasan Asia Pasifik tetap kuat didukung dengan kenaikan permintaan negara-negara konsumen seperti China, Jepang dan Korea Selatan.

 

TIM RISET CNBC INDONESIA

Related Regular News: