Banjir Australia Reda, Harga Batu Bara Didera Koreksi

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/20210404101032-17-235094/banjir-australia-reda-harga-batu-bara-didera-koreksi

 

 Berbeda dari harga minyak yang menguat sepekan ini, harga batu bara dunia justru terhitung boncos selama sepekan, menyusul kian memudarnya risiko pengetatan suplai akibat banjir Australia.

Harga batu bara termal acuan Newcastle untuk kontrak yang ramai ditransaksikan dibanderol di level harga US$ 91,9/ton pada Kamis (1/4/2021), atau terhitung menguat 1,6% dari posisi sehari sebelumnya.

Namun secara mingguan, level penutupan tersebut terhitung anjlok 3,7% dibandingkan dengan posisi akhir pekan sebelumnya pada US$ 95,4/ton. Koreksi ini membalik tren sepekan sebelumnya yang menguat sebesar 1,6%.

Sepanjang Maret, harga komoditas andalan Indonesia ini terhitung melonjak 9% dibandingkan dengan posisi akhir bulan Februari sebesar US$ 82,95 per ton. Harga tertinggi yang pernah dicapai tahun ini dicetak pada 22 Maret, yakni sebesar US$ 98,4/ton.

Pemicunya adalah banjir di wilayah utama penghasil batu bara di Australia, yakni di Newcastle. Banjir terburuk selama 50 tahun terakhir ini memicu 18.000 warga mengungsi dan raksasa batu bara Australia Glencore menghentikan salah satu fasilitas produksi batu baranya.

Tidak heran, pada kuartal pertama tahun 2021 harga batu bara dunia mencatatkan kinerja yang apik dengan kenaikan hampir 11%. Namun demikian, banjir tersebut dinyatakan surut sehingga warga kembali ke rumah masing-masing pada Sabtu (25/3/2021).

Kabar bagus tersebut pun menghapus risiko seretnya pasokan batu bara dunia, sehingga harga batu bara langsung anjlok pada Senin pekan ini, kembali ke level psikologis 80, tepatnya pada US$ 88,3 per ton.

Harga batu bara kembali ke level psikologis 90 pada Rabu setelah pemerintah China memutuskan untuk membuka keran impor, kecuali dari Australia karena keduanya bersitegang. Kebetulan di kuartal pertama juga bertepatan dengan momentum musim dingin dan perayaan tahun baru Imlek.

Sentimen positif juga datang dari vaksinasi yang terus digencarkan di berbagai negara sehingga memicu ekspektasi bahwa perekonomian dunia bakal segera pulih, sehingga permintaan energi seperti batu bara bakal berangsur normal dalam waktu dekat.

Related Regular News: