3 Hari Diabaikan, Batu Bara Diperhatikan Lagi & Harganya Naik

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/20210310100347-17-229123/3-hari-diabaikan-batu-bara-diperhatikan-lagi-harganya-naik

 

Setelah tiga hari beruntun mengalami koreksi yang tajam, harga batu bara akhirnya naik juga. Pada penutupan perdagangan kemarin, harga kontrak futures (berjangka) batu bara termal ICE Newcastle ditutup melesat 2,55% ke US$ 82,55/ton.

Dalam lima hari perdagangan terakhir, harga kontrak batu bara termal yang aktif diperdagangkan di bursa berjangka tersebut sudah turun hampir 6%. Minggu lalu harga si batu hitam sempat menyentuh level psikologis US$ 85/ton.

Memasuki tahun 2021, harga batu bara memang cenderung bergerak dengan volatilitas tinggi. Sekalinya naik dalam sepekan bisa cuan 10% jika seorang trader memanfaatkan momentum koreksi untuk membeli kontrak tersebut. 

Melesatnya harga minyak mentah lebih dari 30% juga turut menjadi sentimen positif untuk harga batu bara mengingat keduanya termasuk ke dalam bahan bakar fosil. China sebagai konsumen batu bara terbesar di dunia menargetkan pertumbuhan ekonominya bisa menyentuh 6% tahun ini setelah berekspansi 2,3% tahun lalu.

Secara fundamental, prospek batu bara tahun ini bakal lebih baik dari tahun lalu. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan permintaan batu bara global meningkat 2,6% pada tahun 2021, didorong oleh permintaan listrik dan industri yang lebih tinggi.

Namun IEA mengatakan bahwa permintaan batu bara global pada tahun 2021 diramal masih akan tetap di bawah tahun 2019 dan bahkan bisa lebih rendah jika asumsi laporan untuk pemulihan ekonomi, permintaan listrik atau harga gas alam tidak terpenuhi.

Kenaikan permintaan batu bara pada tahun 2021 akan berlangsung singkat, dengan perkiraan penggunaan batu bara akan mendatar pada tahun 2025 sekitar 7,4 miliar ton. IEA menyatakan bahwa masa depan batu bara sebagian besar akan ditentukan di Asia.

Saat ini, Cina dan India menyumbang 65% dari permintaan batu bara global. Dengan memasukkan Jepang, Korea, Taiwan dan Asia Tenggara, pangsa itu meningkat menjadi 75%.

Harga batu bara yang lebih tinggi berpeluang memberikan katalis positif untuk kinerja keuangan para penambang. Apalagi bagi mereka yang bisa lebih efisien dalam cash cost.

Pemerintah memperkirakan ekspor batu bara Indonesia setidaknya bisa mencapai 392,4 juta ton pada 2020 atau 14% lebih rendah dari realisasi ekspor batu bara pada 2019 sebesar 454,5 juta ton.

Namun, pemerintah mengharapkan potensi ekspor batu bara yang lebih tinggi tahun ini karena permintaan yang kuat di pasar utama China dan juga di pasar baru di kawasan seperti Vietnam, Bangladesh dan Pakistan.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan volume ekspor batu bara Indonesia pada kisaran 406,3 juta-427 juta ton tahun ini dengan ekspor batu bara ke pasar China diperkirakan berkisar antara 185 juta ton hingga 202,3 juta ton.

Harga batu bara acuan (HBA) tercatat mengalami penurunan menjadi US$ 84,49/ton di bulan ini atau turun US$ 3,3 dibanding Januari. Mulai berakhirnya musim dingin dan Tahun Baru Imlek di China membuat konsumsi listrik mulai melandai dan permintaan batu bara pun mengalami normalisasi.

Related Regular News: