Perusahaan batubara lirik pengembangan bisnis PLTS

Sumber : https://industri.kontan.co.id/news/perusahaan-batubara-lirik-pengembangan-bisnis-plts?page=all

 

Pemerintah menargetkan porsi bauran energi baru terbarukan (EBT) dalam bauran energi nasional bisa mencapai 23% di tahun 2025. Di tengah semangat peningkatan pors bauran EBT tersebut, para pelaku usaha batubara mulai melirik pengembangan  energi baru terbarukan (EBT) seperti energi surya.

Sekretaris Perusahaan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Apollonius Andwie mengatakan, PTBA berencana menggarap proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di lahan bekas tambang dengan kapasitas masing-masing 200 MW, di Ombilin dan Tanjung Enim.

Proyek tersebut, kata Apollonius, sejalan dengan tagline perusahaan “Beyond Coal” dan visi perusahaan untuk menjadi perusahaan energi kelas dunia yang peduli lingkungan.

“Jargon dan visi tersebut memacu PTBA terus merealisasikan, satu demi satu proyek hilirisasi untuk menggenjot nilai tambah batu bara dan ekspansi bisnis ke energi baru dan terbarukan yang sudah mulai berjalan,” kata Apollonius kepada Kontan.co.id, Senin (8/3).

Saat  ini, PTBA masih membahas rencana pengembangan kedua proyek PLTS dengan pihak PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Kementerian ESDM. Pembahasan dengan pihak PLN dilakukan sehubungan dengan rencana PTBA untuk menjadi Independent Power Producer (IPP). 

Apollonius belum merinci estimasi investasi dan prospek/potensi pendapatan yang bisa didapat dari kedua proyek. “Investasi belum bisa kami share dulu ya,” ujarnya singkat.

Perusahaan batubara lainnya,  PT Indika Energy Tbk (INDY), melalui anak perusahaan yang dimiliki sepenuhnya, yakni PT Indika Tenaga Baru, mendirikan perusahaan patungan atawa joint venture dengan Fourth Partner Energy Singapore Pte. Ltd.

Seperti telah dimuat dalam pemberitaan Kontan.co.id sebelumnya (5/3),  total nilai investasi proyek joint venture tersebut Rp 27,97 miliar. Sebanyak  Rp14,26 miliar atau setara 51,001% kepemilikan saham JV tersebut dimiliki oleh PT Indika Tenaga Baru, sedang  48,999% sisanya atau setara dengan Rp 13,70 miliar dimiliki oleh Fourth Partner Energy Singapore Pte. Ltd.

Perusahaan JV yang diberi  nama Empat Mitra Indika Tenaga Surya (EMITS) tersebut sejumlah tujuan serta kegiatan usaha, yaitu; (1) menyediakan jasa konsultasi terkait instalasi proyek tenaga surya, (2) menyediakan konstruksi bangunan proyek tenaga surya, (3) operation and maintenance instalasi listrik, dan (4) penyewaan pembangkit listrik atau instalasi listrik tenaga surya.

“Dan kegiatan independent power producer (IPP) pembangkit listrik tenaga surya,” tulis Adi dalam keterangannya di Bursa Efek Indonesia, Jumat (5/3) sebagaimmana dilansir dari pemberitaan Kontan.co.id (5/3) sebelumnya.

Di lain pihak, pada kesempatan yang berbeda, Wakil Presiden Direktur Adaro MetCoal Hendri Tan mengatakan bahwa pihaknya terus mengkaji peluang pengemban energi alternatif selain batubara, termasuk di antaranya energi tenaga  surya.

"Energi alternatif dalam arti surya dan lainnya menjadi wilayah yang terus kami explore. Untuk saat ini sih penerapannya di beberapa daerah sudah berjalan, sudah in operation, untuk tenaga surya, juga tentunya kami terus masih fokus  saat ini untuk hilirisasi dalam arti pemanfaatan batubara untuk kelistrikan," kata Hendri Tan dalam acara Future Energy Tech and Innovation Forum 2021, Senin, 8 Maret 2021.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Hendra Sinadia menduga, ketertarikan perusahaan batubara untuk menjajal bisnis pengembangan EBT, termasuk di antaranya energi surya, didorong oleh keseriusan pemerintah mendorong porsi bauran EBT. 

Hal ini menurut Hendra memberi sinyal positif bagi pelaku usaha batubara akan prospek dan kepastian bisnis pengembangan EBT.

“Sekarang momentumnya lagi tepat, karena kan sekarang pemerintah sedang mendorong untuk peningkatan bauran EBT, banyak regulasi dikeluarkan untuk mendorong EBT, bagi perusahaan-perusahaan batubara tentu itu salah satu peluang untuk masuk ke situ,” kata Hendra saat dihubungi Kontan.co.id, Senin (8/3).

Strategi diversifikasi pengembangan EBT yang dilakukan perusahaan batubara, menurut Hendra, bisa jadi merupakan langkah antisipasi jangka panjang para perusahaan batubara untuk mengantisipasi cadangan batubara yang terus berkurang dari waktu ke waktu.

Meski begitu, ia menilai bahwa prospek batubara sejauh ini masih memiliki prospek yang bagus. “Batubara sejauh ini masih tetap menjadi energi paling murah, sampai 1-2 dekade ke depan masih tetap akan seperti ini,” ujar Hendra.

Related Regular News: