Melesat 5%, Harga Batu Bara Kembali ke Atas US$ 80/ton

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/20210228131552-17-226695/melesat-5-harga-batu-bara-kembali-ke-atas-us--80-ton

 

Harga batu bara menguat cukup tajam di pekan ini, hingga kembali ke atas US$ 80/ton. Sebelumnya harga batu bara merosot ke bawah level tersebut sejak pekan lalu.

Melansir data Refinitiv, harga batu bara acuan ICE Newcastle sepanjang pekan ini melesat 5% ke US$ ke 82,95/ton. Dalam 5 hari perdagangan, batu bara mampu menguat 3 hari beruntun Sejak Rabu. Sehari sebelumnya, harga batu bara menyentuh US$ 76,75/ton yang merupakan level terendah sejak 6 Januari lalu.

Kemerosotan harga batu bara menyusul semakin murahnya harga batu bara lokal China sebagai akibat dari relaksasi kuota impor dan upaya pemerintah untuk mendongkrak produksi di tengah ketatnya pasokan domestik.

Harga batu bara termal Qinhuangdao yang sebelumnya sempat mencapai 1.000 yuan per ton, kini berada di kisaran 600 yuan per ton. Meski demikian, harga batu bara tersebut masih di atas yang ditetapkan pemerintah China.

Jelang periode berakhirnya musim dingin, harga batu bara biasanya melandai. Apalagi China juga sudah berupaya untuk mendongkrak produksi serta merelaksasi kebijakan impornya guna menanggulangi ketatnya pasokan saat permintaan sedang mencapai puncaknya di musim dingin.

Outlook batu bara dalam jangka panjang juga kurang menggembirakan, sebab dunia diprediksi akan beralih ke energi terbarukan.

Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan permintaan batu bara dunia tahun ini akan naik 2,6% dibanding tahun lalu. Namun, pada periode 2022 hingga 2025, permintaan baru bara diperkirakan akan stagnan di kisaran US$ 7,4 miliar ton. Dan ke depannya permintaan perlahan-lahan akan menurun akibat kampanye energi terbarukan yang ramah lingkungan.

"Energi terbarukan sudah berada di jalur yang benar untuk menggantikan batu bara sebagai sumber energi pembangkit listrik pada 2025. Pada saat itu, penggunaan gas alam juga kami perkirakan sudah melampaui batu bara," jelas Keisuke Sadamori, Direktur IEA.

"Namun permintaan batu bara tetap akan tinggi, terutama di Asia. Dalam waktu dekat, belum ada tanda-tanda batu bara akan hilang sama sekali," tambahnya.

Kampanye energi ramah lingkungan memang semakin gencar di negara barat, apalagi di Amerika Serikat (AS) setelah Joseph 'Joe' Biden menjadi Presiden AS ke-46.

Related Regular News: