DME Banyak Diprotes, PTBA: Gasifikasi Beda dengan PLTU

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/investment/20210223092722-21-225371/dme-banyak-diprotes-ptba-gasifikasi-beda-dengan-pltu

 

Pemerintah terus mendorong hilirisasi untuk komoditas batu bara salah satunya dengan gasifikasi, mengolah batu bara kalori rendah menjadi Dimethyl Ether (DME) yang nantinya bisa digunakan untuk subtitusi Liquefied Petroleum Gas (LPG). Namun gasifikasi masih diragukan oleh aktivis lingkungan, karena secara teknologi dianggap masih kotor.

Menanggapi hal ini Direktur Pengembangan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Fuad Iskandar Zulkarnain Fachroeddin mengatakan jika proyek gasifikasi ini tidak sama dengan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Dia menegaskan, gasifikasi batu bara secara teknologi lebih ramah lingkungan daripada pemanfaatan batu bara untuk PLTU. Menurutnya karbon emisi yang dihasilkan jauh lebih kecil dari PLTU.

"Jadi berbeda dengan PLTU, teknologi gasifikasi ini lebih ramah lingkungan. Karena karbon emisi yang dihasilkan jauh lebih kecil dari PLTU," paparnya dalam Green Talk: Siap-Siap Gasifikasi Batu Bara di akun YouTube BeritaSatu, Senin malam, (23/02/2021).

Menurutnya gasifikasi batu bara menggunakan teknologi intern flow di mana teknologi ini memaksimalkan batu bara dari feedstock (bahan baku) menjadi produk akhir. Dan juga karbon di dalam proses gasifikasi, lebih banyak dan utamanya ini akan dimanfaatkan menjadi produk akhir.

"Tentunya sebagai pelaku industri harus taat pada regulasi aturan terhadap batas dan ambang emisi, dan bersandar pada tata kelola yang baik yang harus kita lakukan," jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, proyek gasifikasi ini dikerjakan dengan skema kerjasama. PT Bukit Asam sebagai penyuplai batu bara, PT Pertamina (Persero) sebagai off taker dan kerjasama dengan investor Air Product.

"Di mana investor pertama investasi dulu. Kita sediakan lahan di Tanjung Enim 585 hektar dan ketika sudah komersial PT Bukit Asam dan Pertamina selain sebagai coal supplier dan off taker dari DME akan masuk berinvestasi," paparnya.

Sebelumnya, Direktur Utama PTBA Arviyan Arifin mengatakan, langkah yang bisa diambil oleh perusahaan batu bara dalam menghadapi era 'sunset' batu bara ini adalah dengan melakukan hilirisasi.

Dia mengatakan batu bara sebagai energi primer selama ini pemanfaatannya belum maksimal yakni hanya diangkut, dijual, dan dibakar.

Dalam mengerjakan proyek gasifikasi ini pihaknya sudah melakukan studi kelayakan dengan melibatkan berbagai pihak. Mulai dari para konsultan, para praktisi, dan para industrialis.

"Kita perlukan investasi hampir US$ 2 miliar ya, atau Rp 30 triliun yang nanti akan dibangun oleh investor. PTBA akan suplai batu bara, nanti DME-nya disalurkan Pertamina," paparnya dalam wawancara bersama CNBC Indonesia, Rabu(25/11/2020).

Related Regular News: