Lho! Penggunaan Energi Fosil Ternyata Bantu Hijaukan Bumi

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/news/20210125120743-4-218472/lho-penggunaan-energi-fosil-ternyata-bantu-hijaukan-bumi

 

Peningkatan suhu bumi itu nyata. Emisi gas karbon dioksida (CO2) menjadi pemicunya, dengan energi fosil dituding sebagai biangnya. Namun, studi terbaru menunjukkan efek pemanasan global justru terbatas dan emisi CO2 malah positif bagi Bumi.

Baru-baru ini, dunia dikejutkan dengan hasil penelitian mengenai efek pemanasan global di India. Hasil penelitian yang dibukukan dengan judul "Assesment of Climate Change over The Indian Region" (2020) ini mengungkap fakta bahwa kenaikan suhu Negeri Bollywood itu ternyata tak separah seperti yang dikhawatirkan.

Sebagai konsumen utama bahan bakar fosil dan menjadi salah satu produsen terbesar gas buang berefek rumah kaca, India dan batu bara seringkali disorot terkait dengan pemanasan global. Namun, negara dengan populasi 1,3 miliar orang ini ikut meneken Kesepakatan Paris, untuk mencegah pemanasan global.

Data International Energy Agency (IEA) menyebutkan bahwa India per 2019 menjadi konsumen batu bara terbesar ketiga, setelah China dan Rusia. Porsi batu bara yang dikonsumsi mencapai 979 juta ton, termasuk 64,8 juta ton batu bara kokas (bahan baku metalurgi).

Penggunaan energi fosil ini seharusnya menjadikan India sebagai negara penyumbang emisi gas buang di dunia. Dengan produksi batu bara domestik mencapai 800 juta ton per tahun, India harus mengimpor 100 juta ton lebih batu bara.

Namun, laporan tersebut justru berujung pada temuan yang mencengangkan. Buku yang diterbitkan oleh Kementerian Ilmu Bumi India menunjukkan bahwa pemanasan global di India tak sebesar yang diperkirakan banyak pihak.

Mereka mengacu pada hasil permukaan garis pantai dan suhu di pegunungan Himalaya yang merupakan tertinggi di dunia. Dari situ diketahui bahwa suhu India per tahun tidak meningkat seperti garis lurus dan malah relatif flat jika dibandingkan dengan tahun 1950-an dan 1970-an.

 Rerata perubahan suhu tercatat tidak meningkat signifikan dari 1951 hingga 2015. Bahkan, India sempat menyejuk antara tahun 1950 ke 1970, dan baru menghangat setelah 2000 tetapi kemudian terhenti pada 2010.

Rekonstruksi suhu di kaki gunung Himalaya juga membuktikan bahwa suhu di Sikkim, wilayah di pegunungan tertinggi dunia tersebut juga cenderung mendingin, yakni sebesar 0,2% jika dibandingkan dengan tahun 1705. Suhu terdingin dicapai pada tahun 1960 sedangkan suhu terpanas dicapai pada tahun 1825.

Temuan ini seolah menampar hasil riset-riset sebelumnya yang menyebutkan bahwa pemanasan global terjadi dalam skala yang masif dan membahayakan. India sejak 1950 tidak mencatatkan adanya ancaman yang krusial terkait pemanasan global, dan hanya mengafirmasi adanya kenaikan suhu tipis dan tidak berjalan secara linier.

Padahal, India memiliki Himalaya yang disebut-sebut sebagai salah satu kawasan paling terpengaruh oleh pemanasan global.

Mengutip ECMWF, sebuah lembaga yang bernaung di bawah Uni Eropa untuk memonitor aktivitas manusia terkait emisi karbon dioksida (CO2), sebanyak 87% emisi CO2 buatan manusia berasal dari pembakaran energi fosil seperti batu bara, BBM, dan gas alam.

Inilah yang menjadikan batu bara menjadi bulan-bulanan aktivis anti pemanasan global dan juga aktivis lingkungan, atas tuduhan bahwa pembangkit listrik berbasis fosil menjadi biang keladi kenaikan tingkat CO2 yang memicu efek rumah kaca.

Namun, sebagaimana ekses dari peradaban manusia, selalu ada dua sisi dalam setiap produk modern. Di tengah makin gencarnya kampanye negatif terhadap energi fosil, terutama batu bara, studi terbaru juustru menemukan bahwa CO2 dan batu bara tak melulu buruk dan merusak.

Pada dasarnya, CO2 merupakan salah satu senyawa kimia yang penting untuk mendukung kehidupan dan tumbuhan. Produksi karbon dioksida akibat aktivitas manusia (anthropogenic CO2) sebenarnya memiliki manfaat untuk mendukung vegetasi.

Hal tersebut baru dikemukakan belakangan ini, dalam riset berjudul "Higher than Expected CO2 Fertilization Inferred from Leaf to Global Observation"(2019). Laporan yang disusun ilmuwan asal Australia dan Selandia Baru ini menyimpulkan bahwa aktivitas fotosintesis di bumi meningkat 31+ 5% sejak tahun 1900.

 

Dalam penelitiannya, tim yang dipimpin Vanessa Haverd, pemegang gelar Phd dari Universitas Oxford mengidentifikasi kenaikan kadar CO2 menjadi faktor dominan dari perubahan proses fotosintesis. Dari situ, dia mengukur tingkat pengikatan karbon di tumbuhan dan membandingkannya secara historis.

"Kami merekonsiliasi tren konstrain atmosfer global dan di tingkat daun dalam aktivitas biosfer yang menjadi model untuk mengungkap efek pemupukan CO2 global pada fotosintesis sebesar 30% sejak tahun 1900, atau 47% atau dua kali lipat dari level karbon era pra-industri," tulisnya dalam laporan riset tersebut.

Temuan riset tersebut mengonfirmasi studi sebelumnya yang terbit pada 2016, berjudul "The Positive Impact of Human CO₂ Emissions on the Survival of Life on Earth." Di laporan yang sudah dibukukan tersebut, Patrick Moore-mantan Co-Founder Greenpeace-mencatat bahwa kenaikan CO2 akibat modernisasi justru membantu menolong bumi.

"Sudah terperagakan dengan jelas bahwa kenaikan CO2 di atmosfer bertanggung jawab atas kenaikan pertumbuhan pohon dalam skala global," tulisnya dalam laporan. Dia memperkirakan jika tak ada aktivitas modern, bisa jadi bumi menghadapi era glasial seperti zaman es (pleistocene).

Dengan demikian, emisi CO2 dan pembakaran fosil tidak melulu sebagai sesuatu yang buruk bagi iklim gobal, karena justru membantu menghijaukan bumi dan mencegah pendinginan global karena karbon yang terperangkap di bawah laut dan perut bumi mendapatkan penggantinya.

 

Meski ada berbagai temuan tersebut, bukan berarti kita berhenti mengembangkan energi bersih. India-yang menemukan bahwa pemasan global ternyata tak seburuk estimasi-tidak lantas mengikuti langkah AS di bawah Presiden Donald Trump yang keluar dari Kesepakatan Paris.

India masih berkomitmen mengembangkan energi non-fosil. Ia menjadi satu dari sedikit negara yang memiliki Menteri Energi Baru dan Terbarukan, yang saat ini dipegang oleh Raj Kumar Singh. Secara bersamaan, energi fosil yakni batu bara tetap dirangkul sebagai energi bersih.

Pada Juli 2020, mereka menggandeng National Energy Technology Laboratory (NETL) Amerika Serikat (AS) untuk mempercepat transformasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara di seluruh negerinya menjadi PLTU batu bara beremisi nyaris nol persen, di luar CO2.

Gas buang seluruh PLTU di India ditargetkan dipangkas 83% (untuk nitrogen oksida), 98% (untuk sulfur dioksida), dan 99,8% (untuk debu). Standard yang diberlakukan mulai 2015 tersebut ditargetkan terpenuhi pada tahun 2022.

Di Indonesia, perlu ada inisiatif berskala nasional serupa untuk terus mengembangkan energi fosil, menjadi energi bersih. Jika CO2 pada titik tertentu justru bermanfaat bagi vegetasi bumi, partikel ikutan yang bersifat polutan seperti sulfur dan nitrogen oksida tetap harus dikendalikan.

Sebagai produsen batu bara terbesar di Asia Tenggara, Indonesia memang tidak bisa membuang batu bara begitu saja, dan mau tidak mau harus memanfaatkannya, asalkan dengan ekses minimal ke lingkungan.

Berbagai teknologi batu bara bersih kini diterapkan, misalnya teknologi penangkap debu (super ultra critical represitator) oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan gasifikasi batu bara yang dijalankan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

Namun harap diingat, sekalipun emisi CO2 berdampak positif juga bagi bumi, polutan lain masih memiliki dampak negatif bagi bumi. Dan jika bicara polutan lain, energi fosil bukanlah satu-satunya sumber, karena industri peternakan juga merupakan penghasil utama gas metana.

Ini menjadi Pekerjaan Rumah (PR) kita bersama.

Related Regular News: