Bak 'Kesetanan' Harga Batu Bara Tembus Rekor, Kini US$ 90/ton

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/20210113074556-17-215484/bak-kesetanan-harga-batu-bara-tembus-rekor-kini-us--90-ton

 

Bak kesetanan, harga kontrak futures (berjangka) batu bara termal ICE Newcastle melesat tajam pada perdagangan kemarin, Selasa (12/1/2021). Harga kontrak yang kadaluwarsa akhir Februari tersebut menguat 6,35% dalam sehari. 

Kini harga kontrak batu bara tersebut tembus level US$ 90,5/ton. Ini sekaligus menjadi harga tertinggi tahun ini dan sejak  hampir dua tahun terakhir atau tepatnya 20 Maret 2020. 

Kenaikan harga batu bara masih dipicu oleh ketatnya pasokan di China. Minggu lalu harga batu bara lokal China Qinhuangdao 5.500 Kcal/kg naik 8,9%. Sekarang harga batu bara China sudah tembus RMB 858/ton.

Jauh melampaui target pemerintah China yang mematoknya di RMB 500 - 570 per ton. Artinya ada selisih RMB 318/ton dari level tertingginya yang diizinkan oleh pemerintah China.

Konsumsi listrik di China memang sedang naik-naiknya. Musim dingin dan jelang tahun baru Imlek membuat kebutuhan untuk penghangat ruangan menjadi meningkat. Namun permintaan yang tinggi tidak dibarengi dengan pasokan yang mencukupi.

Di saat yang sama minimnya pasokan batu bara domestik juga membuat harga komoditas tambang tersebut melesat signifikan. Pemerintah China terus berupaya untuk menaikkan produksi lokalnya dan melonggarkan kebijakan impor agar harganya turun dan permintaan dapat terpenuhi.

Namun kebijakan pelonggaran impor tidak berlaku untuk Australia. Hubungan Canberra-Beijing diterpa masalah setelah Australia meminta untuk diadakan investigasi secara independen terkait asal muasal virus Corona. 

Tidak terima dengan tindakan tersebut, China membalasnya dengan aksi boikot produk-produk Australia. Salah satunya adalah batu bara. Boikot batu bara Australia oleh China justru menguntungkan Indonesia sebagai pemasok batu bara terbesar kedua China.

Di sisi lain saat permintaan China anjlok, pangsa pasar impor batu bara Australia oleh India justru semakin bertambah. Adanya percekcokan kedua negara membuat pasar menjadi dinamis. 

Seperti yang ditulis oleh kolumnis Reuters Clyde Russel, hubungan bilateral Australia-China turut 'menyetel kembali' pasar batu bara lintas laut (seaborne) Asia Pasifik.

Impor China dari Indonesia melonjak menjadi 12,19 juta ton pada Desember, melampaui rekor sebelumnya 10,47 juta pada April 2019, dan naik hampir tiga kali lipat dari 4,3 juta yang tercatat pada November.

Impor India dari Australia mencapai 6,24 juta ton pada Desember, naik dari 5,06 juta pada November dan 5,48 juta pada Oktober, dengan ketiga bulan terakhir ini mengalahkan rekor tertinggi sebelumnya sebesar 4,81 juta dari Desember 2019.

Impor India dari Indonesia mencapai 5,65 juta ton pada bulan Desember, di bawah volume dari Australia, dan turun dari 5,82 juta pada bulan November dan 6,75 juta pada bulan Oktober.

"Angka Desember ini juga jauh di bawah rekor impor India dari Indonesia, 10,58 juta ton pada April 2019." tulis Russell sebagaimana diwartakan Reuters.

Perlu dicatat bahwa sebagian besar ekspor batu bara Australia ke India adalah batu bara metalurgi atau kokas yang banyak digunakan untuk produksi baja.

Namun berdasarkan data pelacakan kapal, terjadi peningkatan volume impor batu bara termal juga. Kemungkinan besar ini sebagai akibat dari penambang Australia yang mencari pasar baru untuk menggantikan pengiriman yang hilang ke China.

Related Regular News: