Rapat Koordinasi Usulan Kurikulum Pertambangan Pendidikan Dasar dan Menengah

Sejatinya sumber daya alam harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dan kebutuhan bahan tambang sifatnya mutlak dan masih sangat diperlukan saat ini dengan beberapa catatan antara lain pengolahannya yang harus memperhatikan kondisi lingkungan.

Industri pertambangan kerap dipersepsikan secara negatif oleh masyarakat dan dinilai sebagai industri “kotor” yang menyebabkan kerusakan lingkungan dalam skala masif. Hal ini disampaikan oleh Gita Mahyarani, Deputi Eksekutif Direktur APBI-ICMA pada Rapat Koordinasi Usulan Kurikulum Pertambangan Pendidikan Dasar dan Menengah yang digelar oleh Direktorat Jenderal Minerba, KESDM (Selasa, 22/12). Padahal sejatinya aspek pengelolaan lingkungan baik melalui upaya reklamasi dan rehabilitasi serta paska tambang merupakan bagian integral dari proses penambangan.

Rapat yang digelar secara daring ini dihadiri oleh Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, DJMB, KESDM, Ridwan Jamaludin beserta jajarannnya dan sejumlah asosiasi pertambangan, antara lain, APBI, APNI, PERHAPI, IMA, dan juga perwakilan Pemerintah Daerah KESDM.

Para perwakilan asosiasi dalam rapat tersebut, termasuk APBI, setuju dengan rencana pemerintah dan menjelaskan bahwa penting adanya pendidikan sejak dini atau kurikulum dasar yang dikemas secara menarik guna dapat diserap secara maksimal oleh anak-anak usia dini, khususnya di daerah-daerah tambang. 

Oleh karena itu, kami menyadari bahwa persepsi negatif yang selama ini banyak berkembang di masyarakat lebih disebabkan oleh belum maksimalnya atau justru masih minim upaya-upaya untuk mensosialisasikan praktek-praktek penambangan yang mempertimbangkan aspek lingkungan dan aspek sosial masyarakat dalam kegiatan usahanya.

 

Related Regular News: