Potential Export to India, Vietnam and other ASEAN Market

Masih membahas terkit dengan peluang ekspor batubara setelah masa pandemi 2021 ini, seperti yang sudah dibahas dalam acara webinar APBI (10/12) Indonesian Coal Roundtable : Export Series dengan mengangkat tema tentang “Menjawab Tantangan Ekspor Batubara 2021”. Bisa disimpulkan bahwa melihat beberapa Analisa yang sudah di analisis oleh S&P Global Platts, bahwa Asia Tenggara adalah salah satu pasar batubara dengan pertumbuhan tercepat di Asia-Pasifik dimana Indonesia menjadi salah satu pemasok utama di kawasan ini. Pembangkit listrik di Asia Tenggara diperkirakan akan mengkonsumsi sebanyak 128 juta ton batubara pada tahun 2020 sendiri.

Permintaan batu bara termal di Asia Tenggara akan terus meningkat dan diperkirakan akan mencapai sekitar 140 juta ton pada tahun 2021. Sebagai bahan bakar fosil termurah yang tersedia dengan mudah dan luas di pasar, negara berkembang yang membutuhkan bahan bakar energi dengan biaya terendah akan mengandalkan batubara termal untuk pembangkit listriknya. Vietnam telah menjadi contoh “kisah sukses” dalam pertumbuhan terbesar di wilayah ini. Setelah mengimpor sedikitnya 14 juta ton dalam setahun, negara ini sekarang mengimpor sebanyak 1,5 juta ton setiap bulan.

Di Asia Tenggara, hampir 100 GW kapasitas pembangkit baru berbahan bakar batu bara (PLTU) akan beroperasi terutama di Indonesia, Vietnam dan Malaysia meskipun masyarakat semakin menentang pembangunan pembangkit listrik tenaga batu bara di berbagai negara dan dorongan untuk energi terbarukan serta tantangan untuk mendapatkan pembiayaan untuk proyek baru.

Sementara itu, importir utama lainnya dan pelanggan utama batubara Indonesia, India, juga ingin meningkatkan produksi domestiknya untuk mengurangi ketergantungan pada batubara impor. Dalam hal ini Pemerintah India telah meminta Coal India Limited yang saat ini memproduksi 80% kebutuhan batu bara domestik India, agar mampu menggantikan sedikitnya 100 juta ton per tahun impor batu bara India dengan produksi batu bara domestik. Namun demikian, negara ini menghadapi beberapa rintangan.

Sumber daya batubara domestik sebagian besar berada di timur laut India dan merupakan tantangan besar bagi negara untuk mengembangkan logistiknya dalam artian untuk memindahkan batubara dari mulut tambang ke pembangkit listrik.

Tantangan lainnya adalah kadar batubara yang sangat rendah yang diproduksi di negara ini. Nilai kalori rata-rata batubara India adalah 3.600 kkal / kg GAR dan kadar abu bisa mencapai 35%. Jadi, merupakan tantangan besar bagi India untuk meningkatkan kualitas batubara serta mengatasi masalah logistik. India telah menjadi pembeli utama batubara Indonesia dan diperkirakan akan terus berlanjut di masa mendatang.

Related Regular News: