Memetakan Peluang Ekspor Batubara ke Vietnam

Memasuki tahun 2021, pemerintah dan eksportir batubara Indonesia tengah menjajaki pasar-pasar baru di kawasan Asia, selain pasar yang sudah eksis seperti Tiongkok dan India. Penjajakan secara mandiri hingga yang melibatkan pemerintah gencar dilakukan terutama sejak pandemi terjadi di bulan Maret. Hal ini tentunya dilakukan guna meningkatkan devisa negara. Salah satu negara tujuan ekspor batubara yang masuk dalam radar para eksportir antara lain Vietnam.

Menurut data dari Kementerian ESDM, ekspor batubara Indonesia ke Vietnam pada tahun 2019 lalu adalah sebesar 14,9 juta ton atau sebanyak 4% dari total ekspor nasional. Namun demikian, walau dalam masa pandemi, pada tahun 2020 (Jan-Okt) impor batubara Vietnam tercatat senilai 47.8 juta ton, meningkat sebesar 2,01% dibandingkan periode yang sama tahun 2019 sebesar 36.4 juta ton. Oleh karenanya, Vietnam dapat dibilang masih membutuhkan ekspor batubara secara keseluruhan dan khususnya juga dari Indonesia sebagai salah satu pemasok utama di negara tersebut. Hal ini dikemukakan oleh Ibu Masriati Lita, Koordinator Fungsi Ekonomi, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Hanoi, Vietnam pada acara Indonesian Coal Roundtable: Export SeriesMenjawab Tantangan Ekspor Batubara Dalam Masa Pandemi (10/12)

Kebutuhan ini merupakan dampak dari beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang sedang giat dibangun di Negeri Naga Biru tersebut. Pada tahun 2019 sendiri, PLTU di Vietnam menghasilkan 40% listrik untuk negaranya dimana seperempatnya dari impor batubara. Saat ini Vietnam memiliki 69 proyek PLTU, dimana 31 nya sedang beroperasi, 9 dalam masa pembangunan, dan 29 lainnya sedang dalam proses perizinan. Ini dapat diartikan, bahwasannya kebutuhan Vietnam akan batubaranya akan terus meningkat sampai 10 tahun yang akan datang.

Sebagai informasi yang didapat dari KBRI Hanoi, Vietnam, ada 6 (enam) perusahaan Vietnam yang ingin mengimpor langsung/konsorsium untuk melalakukan tender batubara, yaitu antara lain EVN/Vietnam Electricity, Petrovietnam Power Company, Nomura Trading Co., LtD, Danka Minerals, Leedumarin Trading & Sea Transportation Services Co., LtD, dan Chinfon Cement Corporation.

Dalam paparannya, Ibu Lita mengungkapkan bahwa kebutuhan batubara Vietnam di tahun 2030 diperkirakan akan mencapai 110 juta ton, naik hampir 50% dari kebutuhan untuk tahun ini di angka 60 juta ton, terlepas pandemi yang masih belum usai secara global. Melihat kondisi ini Indonesia yang memiliki jenis batubara unik, memiliki peluang untuk mengekspor batubaranya ke Vietnam. Sebagimana diketahui, sampai saat ini Indonesia masih menjadi eksportir terbesar yang menduduki peringkat ke 2 (dua) setelah Australia, kemudian disusul dengan Rusia.

 

Dalam kesempatan ini Kedutaan Besar Republik Indonesia di Hanoi, Vietnam menyampaikan bahwa pasar Vietnam sangat luas dan terbuka bagi eksportir batubara di Indonesia untuk memulai kerjasama langsung dengan pihak-pihak di Vietnam, melalui salah satunya, kegiatan-kegiatan virtual business forum yang sudah dan akan terus dilaksanakan dan difasilitasi oleh KBRI.

Namun, masih ada beberapa tantangan kedepan yang harus dihadapi oleh kedua belah pihak antara lain terkait kesepakatan harga, transparansi dari importir maupun eksportir batubara, dan ekspor yang harus dilakukan melalui mekanisme tender (mandiri/konsorsium) atau transaksi/kontrak/beli-putus. Seperti negara-negara lainnya, pemerintah Vietnam juga untuk secara bertahap akan berfokus pada clean renewable energy.

Related Regular News: