ICR : Export Series - Menjawab Tantangan Ekspor Batubara 2021

Pada kesempatan ini senang kali APBI Learning Center dapat kembali menyelenggarakan acara Webinar, kali ini APBI bekerjasama dengan S&P Global Platts (10/12). Sebagaimana diketahui tahun 2021 sudah di depan mata. Dengan kondisi pandemi Covid-19 seperti ini masih menjadi tantangan bagi industri pertambangan karena berimbas pada menurunnya permintaan batubara global, bahkan kondisi yang dialami oleh beberapa perusahaan harus memberhentikan sementara operasinya karena tidak menutup biaya produksi.  Terlepas dari kondisi tersebut, kebijakan pemerintah juga mempengaruhi industri batubara nasional.

 

Pada webinar inipun terdapat banyak narasumber yang bisa memberikan insight yang luar biasa untuk menatap tahun 2021 ini, sebut saja seperti HE. Djauhari Oratmangun selaku Dubes Indonesia Untuk Republik Rakyat Tiongkok & Mongolia, HE. Sidharto Reza Suryodipuro selaku Dubes Indonesia untuk India & Bhutan, Masriati Lita selaku Minister Counsellor Fungsi Ekonomi, KBRI di Hanoi, M. Wafid selaku Direktur Pembinaan Program Mineral dan Batubara, DJMB, Dodik Ariyanto, Kasubdit Pengawasan Usaha Operasi Produksi dan Pemasaran Batubara DJMB, Deepak Kanan selaku Managing Editor of Thermal Coal, S&P Global Platts dan Para narasumber dan peserta yang telah hadir seperti Kurnia Ariawan dan Hendri Tan selaku perwakilan dari pengurus APBI, lalu perwakilan buyer dari China dan India.

Batubara masih sebagai salah satu komoditas yang diandalkan dan berkontribusi dalam membantu peningkatan pertumbuhan dan pengembangan ekonomi regional maupun nasional. PNBP dari sektor minerba mencapai 26 triliun. Ekspor batubara merupakan komoditas ekspor non-migas terbesar kedua Indonesia dan perannya sangat penting di saat perdagangan dunia sedang dalam kondisi pelemahan global saat ini. Ekspor batubara Indonesia sampai dengan Oktober mencapai 364 juta ton. Dengan pangsa pasar terbesar yaitu Tiongkok sebesar 98,7 juta ton atau 31% dari total ekspor, kemudian India sebesar 23% dan diikuti Jepang, Korsel serta beberapa negara ASEAN lainnya termasuk Vietnam.

Adanya pergerakan positif, dalam 2 bulan terakhir ini harga batubara mulai merangkak naik ke level 59,65 USD/ton, harapannya harga dapat terus membaik di tahun mendatang. Seiring dengan pulihnya kondisi ekonomi di negara tujuan ekspor, salah satunya Tiongkok. Ada  indikasi impor batubara Tiongkok akan mengalami kenaikan signifikan pada Desember ini karena meningkatnya permintaan dari pabrik-pabrik Tiongkok. Selain itu, juga industri di Jepang, Korea Selatan yang sudah mulai pulih kembali. Hal tersebut memberikan harapan optimis akan ada peningkatan permintaan batubara kedepannya.

Dengan diselenggarakannya webinar ini para anggota apbi khususnya sudah mulai bisa melihat prospek pada tahun 2021, dari semua pembicara yang sudah menyampaikan materinya memang dilihat tahun 2021 masih memiliki sentiment yang positif terhadap pangsa pasar batubara.

Related Regular News: