Sejumlah emiten menyiapkan belanja modal yang lebih besar di tahun depan

Sumber : https://stocksetup.kontan.co.id/news/sejumlah-emiten-menyiapkan-belanja-modal-yang-lebih-besar-di-tahun-depan

 

Bisnis di tahun depan agaknya mulai pulih. Sejumlah emiten memproyeksikan alokasi belanja modal atau capital expenditure (capex) yang lebih besar tahun depan. Hal ini seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi dan juga melanjutkan ekspansi yang sempat terusik akibat pandemi.

PT Ciputra Development  Tbk (CTRA) misalnya, dengan asumsi perekonomian bisa normal kembali, emiten properti  tersebut merencanakan alokasi capex akan sama seperti tahun 2019. “Tahun depan kami berharap lebih baik dari tahun ini. Apalagi sudah ada vaksin sehingga aktivitas ekonomi bisa kembali normal,” ujar Tulus Santoso, Direktur  Independen Ciputra Development kepada Kontan.co.id, Minggu (29/11).

Tulus melanjutkan, capex tahun depan mayoritas akan digunakan CTRA untuk melakukan pembelian bank tanah (land bank).

Sebagai gambaran, CTRA mengalokasikan belanja modal senilai Rp 1,3 trilun pada tahun lalu. Sementara tahun ini, konstituen Indeks Kompas100 tersebut menurunkan alokasi belanja modal sekitar 30%-40%. Awalnya, CTRA menganggarkan capex sebesar Rp 1,5 triliun.

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) juga memproyeksikan alokasi capex tahun depan akan lebih besar tahun ini. Sebelumnya, Direktur Utama Bukit Asam Arviyan Arifin menyebut alokasi belanja akan lebih besar tahun depan. Hal ini seiring dengan  ada beberapa proyek yang  akan dieksekusi dan berlanjut tahun depan, salah satunya adalah PLTU Mulut Tambang.

“Capex  akan tetap lebih besar dari tahun ini karena ada beberapa proyek yang dieksekusi tahun depan,” ujar Arviyan saat paparan kinerja yang digelar secara virtual, Jumat (6/11). Sebagai gambaran, emiten pelat merah ini memproyeksikan belanja modal hingga Desember 2020 akan berada di rentang Rp 1 triliun – Rp 2 triliun.

Capex juga akan digunakan untuk proyek pabrik pemrosesan batubara menjadi dymethil eter (DME) yang berlokasi di Tanjung Enim, Sumatra Selatan. Pabrik hilirisasi batubara tersebut akan mengolah sebanyak 6 juta ton batubara per tahun dan diproses menjadi 1,4 juta ton DME yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif pengganti liquefied petroleum gas (LPG).

Selain itu, capex di tahun depan juga akan digunakan untuk ekspansi PTBA di segmen pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Bandara milik PT  Angkasa Pura II  dan di lahan pascatambang di Tanjung  Enim, hingga peningkatan jalur angkutan baik ke arah utara  maupun selatan.

Presiden Direktur CSA Institute Aria Santoso menilai, dengan kondisi saat ini yang mengarah pada pemulihan bisnis di berbagai sektor, memang cukup tepat bagi beberapa emiten yang melakukan perencanaan ekspansi kembali tahun depan. “Proses pemulihan dari pandemi dan pengendaliannya akan berangsur mendorong berbagai bidang bisnis bertumbuh,” ujar Aria kepada Kontan.co.id, Minggu (29/11).

Aria memproyeksikan, sektor propert menjadi salah satu sketor yang pemulihannya akan cepat terjadi, terdorong dengan tingkat suku bunga yang murah saat ini. Hanya saja, menurut Aria, masih perlu diwaspadai dari sisi daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya.

Selain itu, dia menilai, sektor manufaktur dan retail akan pulih sejalan dengan pemulihan ekonomi secara bertahap yang akan meningkatkan permintaan kembali. “Sektor infrastruktur seperti jalan tol dan telekomunikasi akan tetap bertahan juga di periode pemulihan,” imbuh dia.

Senada, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menilai wajar pengalokasian capex emiten yang  lebih besar tahun depan. “Mengingat capex tahun ini kecil karena penyerapannya kurang maksimal akibat pendemi,” ujar Sukarno saat dihubungi Kontan.co.id, Minggu (29/11).

Tahun depan, Sukarno meramal sektor tambang batubara akan mengalami pemulihan seiring membaiknya ekonomi dan aktivitas industri. Pulihnya industri akan mendorong kebutuhan penggunaan dan penyerapan komoditas batubara. Apalagi, tahun depan China  berencana  untuk mem-booking batubara Indonesia hingga 200 juta ton.

“Sektor infrastruktur bagian subsektor transportasi juga (akan pulih). Karena aktivitas kembali normal dan tidak lagi banyak work from home (WFH),” ujar dia.

Related Regular News: