Pemerintah jajaki kerjasama perdagangan batubara ke sejumlah negara Asia

Sumber : https://industri.kontan.co.id/news/pemerintah-jajaki-kerjasama-perdagangan-batubara-ke-sejumlah-negara-asia?page=all

 

Melalui kesepakatan antara Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) dan China Coal Transportation and Distribution (CCTDA), China menyepakati peningkatan impor batubara dari Indonesia. Pada tahun depan, volume perdagangan batubara Indonesia ke China meningkat menjadi 200 juta ton.

Kerjasama ini berawal dari hasil kunjungan kerja pemerintah Indonesia ke China dalam rangka perayaan 70 tahun hubungan diplomatik kedua negara tersebut. 

Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Batubara Kementerian ESDM Sujatmiko mengungkapkan, tak hanya dengan China, pemerintah juga membidik peningkatan volume perdagangan dan investasi batubara dari negara Asia lainnya. Termasuk dari negara-negara yang selama ini menjadi pasar utama ekspor batubara Indonesia, yakni India.

"Di samping dengan Tiongkok, Pemerintah Indonesia secara berkesinambungan terus meningkatkan kerjasama terkait investasi dan perdagangan batubara dengan beberapa negara mitra di antaranya India, Republik Korea, Jepang, Bangladesh, Pakistan dan negara-negara ASEAN," kata Sujatmiko saat dihubungi Kontan.co.id, Jum'at (27/11).

Sebagai gambaran, selama ini negara-negara Asia menopang pasar ekspor batubara asal Indonesia. Dalam catatan Kontan.co.id, pada tahun 2019 lalu ekspor batubara Indonesia tercatat sebesar 454,5 juta ton. 

Dari jumlah itu, China mendominasi dengan 33%, disusul India dengan 27%. Sementara ekspor ke Korea Selatan sebanyak 7%, Jepang 6%, dan Taiwan sebanyak 5% dari total ekspor batubara Indonesia di tahun 2019.

Sujatmiko optimistis, meski pasar (demand) batubara sempat anjlok akibat terdampak pandemi covid-19, namun ekspor batubara Indonesia akan terjaga hingga penghujung tahun nanti. Bahkan, pada 2021 pasar ekspor batubara diproyeksi akan membaik.

"Ekspor batubara Indonesia sampai dengan akhir 2020 dan 2021 mendatang diperkirakan mulai pulih dan membaik, seiring dengan pemulihan ekonomi di negara-negara pengimpor batubara Indonesia," sambung Sujatmiko.

Merujuk data Kementerian ESDM, hingga Oktober, realisasi produksi batubara Indonesia mencapai 459 juta ton. Angka itu setara dengan 83% dari target produksi batubara nasional tahun ini yang sebesar 550 juta ton.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 327 juta ton batubara diekspor dengan nilai sebesar US$ 13,38 miliar. Sedangkan batubara yang dipakai untuk kepentingan di dalam negeri (DMO) sebesar 109 juta ton atau baru 70% dari target DMO tahun ini yang dipatok sebesar 155 juta ton.

Mengutip keterangan resmi Kementerian ESDM, Komitmen para importir Tiongkok yang menyetujui pembelian batubara Indonesia ialah sebesar US$ 1,46 Miliar atau setara Rp 20,6 triliun. Kerjasama antara APBI dan CCTDA itu digelar pada Rabu (25/11) lalu.

Direktur Eksekutif APBI Hendra Sinadia menyampaikan, kesepakatan penjualan batubara Indonesia ke China akan meningkatkan volume perdagangan. "Ini merupakan bagian dari kesepakatan untuk meningkatkan kerjasama antara kedua negara untuk mencapai volume perdagangan 200 juta ton di tahun 2021" kata Hendra.

Selain menyepakati kebijakan ekspor jangka panjang, sambung Hendra, kerja sama ini juga memfasilitasi para produsen batubara di Indonesia dengan pihak pembeli di RRT dan meningkatkan perdagangan bilateral kedua negara. 

Penandatanganan kerjasama antara APBI dengan CCTDA juga dihadiri oleh anggota APBI yang menjadi eksportir batubara ke RRT yaitu Adaro, Bukit Asam, Kideco, Indo Tambangraya Megah, Multi Harapan Utama, Berau dan Toba Bara. Turut hadir pula perwakilan dari Kedutaan RRT, serta CNCA (China National Coal Association).

Ketua Umum APBI Pandu Sjahrir mengapresiasi dukungan dari pemerintah dalam mendorong kerjasama perdagangan dan investasi di sektor industri batubara yang merupakan industri yang berkontribusi signifikan bagi penerimaan negara, juga bagi ketahanan energi.

"Dengan kerjasama ini, produsen batubara nasional optimis menatap tahun 2021 meskipun pasar batubara global diperkirakan belum akan pulih sepenuhnya seperti di tahun 2018-2019," ungkap Pandu.

Related Regular News: