Harga Saham Batu Bara 'Ngamuk', Ada yang Melesat 10% Lebih

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/20201119120849-17-203019/harga-saham-batu-bara-ngamuk-ada-yang-melesat-10-lebih

 

Harga saham batu bara kembali melesat pada perdagangan hari ini mengekor harga komoditasnya yang terus menanjak ke level tertingginya selama 7 bulan terakhir.

Sentimen untuk batu legam maupun produsennya memang sedang ciamik akhir-akhir ini setelah kabar muncul dua kandidat vaksin Covid-19 yang memiliki efektivitas di atas 90%.

Dengan pulihnya kembali perekonomian pasca vaksinasi massal, tentunya roda perekonomian akan berputar terutama di sektor industri dan manufaktur dimana sektor inilah yang menjadi salah satu konsumen terbesar batu bara.

Tercatat seluruh emiten batu bara raksasa yang melantai di bursa efek berhasil menghijau pada perdagangan hari ini.

Kenaikan sendiri dipimpin oleh PT Indika Energy Tbk (INDY) yang berhasil terbang 10,05% ke level Rp 1.150/unit. Saham batu legam lain dengan kenaikan besar yakni PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) yang berhasil terbang 8,42% ke level Rp 9.975/unit.

Sedangkan untuk saham batu bara Pelat Merah PT Bukit Asam Tbk (PTBA) berhasil naik 5,21% ke level harga Rp 2.220/unit.

Sentimen positif batu legam datang dari, harga kontrak batu bara termal Newcastle yang masih kuat untuk naik kendati isu boikot batu legam asal Australia itu santer berembus. Kini harga kontrak batu bara masih kokoh di level tertinggi dalam tujuh bulan terakhir.

Pada perdagangan Rabu (18/11/2020) harga kontrak batu bara termal itu ditutup menguat 0,88% ke US$ 63,05/ton. Ini menjadi harga tertinggi sejak 3 April 2020.

Impor batu bara termal dan kokas China dari Australia memang drop signifikan karena pemerintah dikabarkan memberi instruksi informal bagi pelaku industrinya untuk menjauhi produk batu bara asal Negeri Kanguru itu.

Berdasarkan data Refinitiv, ekspor Australia untuk jenis batu bara kokas dan batu bara termal ke China mencapai 3,35 juta ton pada Oktober atau naik sedikit dari 3,31 juta pada September, tetapi turun drastis dari 12,33 juta pada Juni yang menjadi bulan terkuat sepanjang tahun ini.

Namun sebenarnya China juga masih punya masalah yang serius. Ketatnya pasokan membuat harga batu bara domestiknya melambung. Terakhir pekan lalu harga batu bara termal Qinhuangdao dipatok di RMB618/ton atau setara dengan US$ 94,15/ton.

Harga batu bara termal lokal China sudah melampaui batas atas harga batu bara yang ditetapkan pemerintah yaitu RMB570/ton.

Selain karena harga batu bara domestik China yang masih sangat tinggi, kenaikan ekspor Australia ke beberapa negara lain setidaknya masih mampu mengimbangi anjloknya ekspor ke Negeri Tirai Bambu.

Ekspor ke India dalam pada bulan September tahun ini tercatat sebesar 5,97 juta ton. Namun, impor batu bara India dari Australia sebagian besar merupakan batu bara kokas dan oleh karena itu hanya berdampak kecil pada harga batu bara termal.

Di luar China, pelanggan batu bara termal utama Australia adalah Jepang dan Korea Selatan, yang memberikan gambaran yang lebih positif bagi penambang batu bara asal Negeri Kanguru.

Ekspor Australia ke Jepang sedikit meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Ekspor batu bara tercatat mencapai 8,3 juta ton di bulan Oktober dan 8,45 juta di bulan September. Ekspor pada dua bulan tersebut menjadi yang terbaik sejak Maret.

Pengiriman ke Korea Selatan mencapai 4,95 juta ton pada Oktober atau mengalami kenaikan dari 4,24 juta pada September dan menjadi ekspor Australia terkuat sejak Desember tahun lalu.

Menambah sentimen positif untuk harga adalah berita baik terkait  perkembangan terbaru vaksin Covid-19 Pfizer, BioNTech dan Moderna yang menjanjikan. Optimisme di pasar meningkat dan harga-harga komoditas pun terangkat.

Related Regular News: