Kelompok Kerja Bersama ke-5 tentang Batubara diadakan secara virtual antara India dan Indonesia

 

PRESS RELEASE

PERTEMUAN THE 5TH INDONESIA-INDIA JWG ON COAL

VIRTUAL VIDYOCONNECT, 5 NOVEMBER 2020

 


Pertemuan Indonesia-India JWG on Coal ke-5 merupakan pertemuan bilateral yang  sudah reguler dilaksanakan dalam rangka memelihara dan meningkatkan kerja sama batubara antara Indonesia-India terkait sektor perdagangan, investasi, eksplorasi, litbang, dan capacity building. Pada pertemuan JWG ke-5 ini, berbeda dengan sebelumnya karena dilaksanakan secara virtual mengingat masih dalam kondisi pandemic Covid-19.

India sebagai tuan rumah penyelenggaraan pertemuan ke-5 ini, dipimpin oleh Mr Vinod Kumar Tiwari, Additional Secretary of Ministry of Coal of Government of India, dan delegasi Indonesia dipimpin oleh Mr. Jonson Pakpahan, Direktur Penerimaan Mineral dan Batubara dengan anggota delegasi terdiri atas perwakilan dari KBRI di New Delhi, unit eselon 1 di Kementerian ESDM, Kementerian Luar Negeri, Kemenko Perekonomian, Kemenko Maritim dan Investasi, Kementerian Perdagangan, Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) dan beberapa Perusahaan Batubara.

Pertemuan terdiri atas 4 sesi yaitu Policy Environment for Coal Business, Coal Resources Development Roadmap, Research and Development, dan Business to Business. Pada Sesi Policy Environment for Coal Business, India menyampaikan bahwa kebutuhan batubara domestik India terus meningkat pada tahun-tahun yang akan datang. Pada tahun 2024, dengan skenario terendah, kebutuhan batubara India akan mencapai 1 Milyar ton. India telah melakukan berbagai perubahan kebijakan untuk mencapai target kebutuhan batubara domestik diantaranya dengan membuka peluang investasi pada sektor batubara sampai 100% kepada investor asing (FDI), dan juga perubahan kebijakan yang meningkatkan ease of doing business lainnya bagi para pelaku usaha di sektor batubara. Sementara dari sisi Indonesia batubara masih memerankan peranan yang penting bagi pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri Indonesia, dimana paradigma pengelolaan batubara Indonesia tidak hanya sebatas komoditas ekspor namun sebagai penggerak pembangunan nasional melalui kegiatan peningkatan nilai tambah batubara.

Pada Sesi Coal Resources Development Roadmap, India melalui Kementerian Batubara India menyampaikan bahwa dengan meningkatnya produksi industri baja India maka kebutuhan coking coal di India pada tahun 2030 mencapai 161 juta ton/tahun. Sementara untuk Indonesia dalam pengembangan deep seated coal sangat diperlukan sebagai upaya untuk mendukung pemenuhan kebutuhan batubara nasional dan upaya menjaga keseimbangan lingkungan mengingat pengembangan deep seated coal lebih ramah lingkungan dibandingkan suface coal mining.
Pada Sesi Research and Development, India melalui CMPDI menawarkan beberapa potensi kerja sama yang merupakan keahlian CMPDI yaitu CCT, geomatic and remote sensing, perencanaan dan desain tambang, mine safety, manajemen dan pengelolaan lingkungan, manajemen fly ash di lahan bekas tambang,  coal beneficiation, dan teknologi informasi. Indonesia menawarkan kerja sama pengembangan Underground Coal Gasification (UCG) mengingat Indonesia dan India sama-sama memiliki potensi batubara yang lebih besar dibandingkan dengan potensi minyak dan gas sehingga Indonesia dan India sangat bergantung pada batubara untuk pemenuhan kebutuhan energi domestik.

Pada sesi B to B, Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) bersama perwakilan pelaku usaha batubara dipertemukan dengan Coal Consumers Association of India bersama perwakilan perusahaan konsumen batubara India. Pada tahun 2019, impor batubara India dari Indonesia mencapai 60% dari total impor batubara India. Terkait demand batubara di India pasca covid-19, menurut konsumer batubara India bahwa permintaan diprediksi kembali normal bahkan lebih tinggi pada tahun 2021-2022. Sebaliknya concern India atas kebijakan Indonesia terkait DMO maupun pengembangan PNT batubara, disampaikan bawah saat ini ekspor dari Indonesia ke India masih berjalan normal mengingat konsumsi domestik Indonesia masih rendah.

Mengenai peluang investasi coking coal di Indonesia, Indonesia menyampaikan bahwa produksi coking coal Indonesia pada saat ini masih rendah berkisar 2,5 juta – 3 juta ton, dan Indonesia mendorong India untuk melakukan investasi sektor batubara Indonesia untuk coking coal. Selain coking coal, untuk pengembangan UCG, Indonesia sudah melakukan uji coba UCG di Sumatera Selatan dengan hasil yang menjanjikan, dan Indonesia mengharapkan adanya kerja sama dengan India. Sementara untuk peluang investasi di India, dalam rangka peningkatan kebutuhan batubara domestik 1 Milyar ton pada tahun 2024, telah membuka kesempatan FDI 100% pada sektor batubara serta kebijakan kemudahan berusaha lainnya merupakan peluang bagi investor Indonesia untuk melakukan ekspansi ke India.

Dalam penutupan pertemuan The 5th Indonesia-India JWG on Coal, Direktur Pembinaan Pengusahaan Batubara, menyampaikan dengan adanya pertemuan JWG ke 5 kali ini, diharapkan kerjasama kedua negara meningkat terutama untuk perdagangan batubara serta peluang investasi dapat ditindaklanjuti oleh para pelaku usaha.

 

sumber: Subdit Pengembangan Investasi dan Kerja Sama Minerba

Related Regular News: