Empat Emiten Bersiap Tawarkan 'Global Bond'

Sumber : https://investor.id/market-and-corporate/empat-emiten-bersiap-tawarkan-global-bond

 

Sebanyak empat perusahaan bersiap menawarkan surat utang global (global bond) sebagai alternatif penggalangan dana ekspansi ataupun pelunasan utang. Perusahaan tersebut adalah Star Energy Geothermal (anak usaha PT Barito Pacific Tbk), PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF), PT Indika Energy Tbk, dan PT Alam Sutera Realty Tbk.

Presiden Direktur Barito Pacific Agus Salim Pangestu mengatakan, surat yang akan diterbitkan Star Energy bakal menjadi green bond investment grade pertama dari sektor swasta di Indonesia. Perseroan masih melakukan finalisasi terkait total nilai penerbitan, namun aksi ini dipastikan terealisasi tahun ini.

Sebelumnya, terdapat kabar jika nilai penerbitan green bond hingga US$ 1,1 miliar. “Saya belum dapat ungkap nilainya, diskusinya masih berjalan. Ini akan menjadi green bond ke-3 dari Barito Group,” jelas dia kepada Investor Daily, Minggu (4/10).

Sementara itu, Moody’s Investor Service menyematkan peringkat investment grade yakni Baa3 untuk senior secured bond yang akan diterbitkan Star Energy Geothermal Darajat II Ltd dan Star Energy Geothermal Salak Ltd. Dua perusahaan ini merupakan anak usaha Star Energy Geothermal BV. Sedangkan outlook yang diberikan adalah stabil.

Surat utang akan terrbagi dalam dua tranche, yang pertama memiliki tenor sembilan tahun hingga 2029. Sedangkan tenor tranche kedua selama 18 tahun hingga 2038. Peringkat investment grade ini menggambarkan kualitas dari surat utang yang dianggap baik dan minim risiko, yang dikeluarkan oleh perusahaan reliable

Berdasarkan penilaian Moody’s, peringkat yang diberikan menggabungkan profil pendapatan Star Energy yang dapat diprediksi. Lalu, perusahaan juga didukung oleh pendapatan berdasarkan ketersediaan kontrak penjualan energi jangka panjang kepada PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Selain itu, Star Energy dinilai memiliki profil keuangan yang moderat.

Sebagai informasi, Star Energy memiliki hak eksklusif untuk mengeksplorasi, mengembangkan dan memanfaatkan energi panas bumi di Darajat dan Salak, Jawa Barat. Pengembangan ini dilakukan di bawah kontrak operasi bersama dengan PT Pertamina Geothermal Energy. Proyek di Salak dan Darajat tercatat memiliki kapasitas pembangkit gabungan sebesar 647,8 megawatt (MW). Dari jumlah itu, sebanyak 412,8 MW dioperasikan oleh Star Energy dan sisanya dioperasikan PLN.

Sementara itu, Fitch Ratings turut menyematkan peringkat BBB- untuk global bond yang akan diterbikan Star Energy dengan outlook stabil. Rencananya, Star Energy akan menggunakan dana obligasi global untuk melunasi sejumlah utang. Sebagian dana juga akan dialokasikan untuk belanja modal, modal kerja, dan kebutuhan lain yang terkait dengan operasional geotermal.

Secara terpisah, Presiden Direktur Indonesia Infrastructure Finance (IIF) Reynaldi Hermansjah mengatakan, perseroan masih mengkaji nilai global bond yang akan diterbitkan. Namun, perseroan terlebih dahulu mengumumkan Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) obligasi dalam waktu dekat. “Global bond dan PUB sedang berjalan prosesnya, tapi yang paling dekat dilaksanakan adalah PUB,” jelas dia.

Sebelumnya, Reynaldi mengatakan, dana yang diincar IIF dari pasar obligasi pada kuartal IV sekitar Rp 1,5-2 triliun. Dana Hasil emisi obligasi digunakan untuk kebutuhan penyaluran pembiayaan infrastruktur.

Saat ini, terdapat sejumlah proyek infrastruktur yang rencananya akan didanai perseroan. Proyek tersebut antara lain sistem penyediaan air minum (SPAM), mini hyrdro power plant, dan infrastruktur di sektor minyak dan gas yang digarap oleh perusahaan swasta nasional.

 

Persetujuan

Pada bagian lain, Indika Energy bersiap meminta persetujuan pemegang saham atas rencana penerbitan global bond maksimal US$ 650 juta. Emten di bidang pertambangan batu bara ini menjadwalkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 26 Oktober 2020.

Manajemen Indika Energy menjelaskan, menjelaskan bahwa surat utang diharapkan akan dapat memperpanjang profil jatuh tempo. Selanjutnya, dengan skema pembayaran surat utang pada akhir jatuh tempo atau bullet payment, perseroan dapat menjaga likuiditas.

Di lain pihak, Alam Sutera berencana menawarkan senior notes maksimal US$ 485 juta, yang akan terbagi dalam dua tenor, yakni jatuh tempo pada 2024 dan 2025. Perseroan berencana menukar surat utang yang baru itu dengan senior notes 2021 dan 2022.

Alam Sutera memberikan waktu kepada para pemegang senior notes untuk memberikan persetujuan sampai 20 Oktober. roses penyelesaian penukaran dengan obligasi baru diperkirakan selambat-lambatnya pada 29 Oktober.

Related Regular News: