Nasib Batu Bara dan Ambisi China Jadi Negara Bebas Karbon

Sumber : https://market.bisnis.com/read/20200924/94/1295999/nasib-batu-bara-dan-ambisi-china-jadi-negara-bebas-karbon

 

Ambisi China untuk menjadi negara bebas karbon pada 2060 diyakini akan semakin memperburuk prospek batu bara. Para penambang emas hitam mungkin perlu khawatir karena China adalah konsumen utama batu bara di dunia.

Dalam sidang umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Presiden China Xi Jinping secara mengejutkan mengumumkan rencana China sebagai negara bebas karbon pada 2060.

Meskipun Xi Jinping tidak menjelaskan secara rinci rencana itu, pengumuman Xi menyiratkan bahwa emisi China harus turun tajam untuk mencapai nol bersih dalam waktu kurang dari 30 tahun setelah mencapai puncaknya pada 2030.

Padahal, hingga saat ini China adalah pengguna energi dan penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia. Negeri Panda itu menambang dan membakar setengah dari jumlah batu bara dunia. China juga merupakan pengimpor minyak dan gas alam terbesar di jagad raya.

“Manusia tidak lagi boleh untuk mengabaikan peringatan tentang alam dan menempuh jalan yang tidak terduga dalam mengekstraksi sumber daya tanpa berinvestasi dalam konservasi, mengejar pembangunan dengan mengorbankan perlindungan, dan mengeksploitasi sumber daya tanpa restorasi,” ujar Xi Jinping seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (23/9/2020).

Dengan ambisi sebesar itu, Sanford C. Bernstein & Co memperkirakan setidaknya China harus mengurangi bauran energi dari bahan bakar fosil yang saat ini berkontribusi sekitar 85 persen menjadi hanya sebesar 25 persen, atau bahkan lebih rendah.

Tim Riset Sanford C. Bernstein melihat minyak dan batu bara menjadi komoditas yang akan menerima beban penurunan secara tajam dari rencana China tersebut.

“Namun, pukulan terbesar akan terjadi pada batu bara, bahan bakar fosil yang paling mencemari, yang menyumbang hampir 58 persen dari energi China pada 2019,” tulis Tim Riset Sanford C. Bernstein dalam risetnya seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (23/9/2020).

Dengan demikian, rencana pengembangan China mulai tahun depan mungkin akan berbeda sekali dengan pengembanagan dalam beberapa tahun terakhir, di mana Negeri Panda itu masih menambah kapasitas penambangan batu bara hingga pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Hal itu juga akan berdampak besar pada lapangan pekerjaan China, karena penambangan batu bara di negeri itu mempekerjakan sekitar 3,5 juta orang.

Sementara itu, Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa rencana itu tidak serta merta akan merusak prospek batu bara. Komoditas itu masih akan bermanfaat untuk negara lain.

Dia juga menjelaskan, kalaupun China tetap berambisi untuk menjadi negara bebas karbon tentu itu akan memakan waktu yang cukup lama. 

China yang juga menjadi negara penghasil baja terbesar dunia, juga membutuhkan batu bara kalori tinggi sebagai bahan baku pembakaran baja.

“Tidak serta merta akan membuat batu bara ditinggalkan, masih banyak yang akan menggunakan batu bara tidak hanya China,” ujar Ibrahim saat dihubungi Bisnis, Rabu (23/9/2020).

 

TREN BULLISH

Di sisi lain, Ibrahim menjelaskan bahwa memasuki kuartal IV/2020 harga batu bara diproyeksi segera berada di jalur kenaikannya seiring dengan dimulainya musim dingin. Hal itu pun sudah tercermin dari pergerakan harga batu bara berjangka saat ini.

“Untuk pekan ini harga batu bara bisa menyentuh US$63 per ton dengan level supportnya di US$58 per ton, dan hingga akhir tahun bisa menetap di kisaran US$67 per ton,” papar Ibrahim.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Selasa (22/9/2020) harga batu bara Newcastle untuk kontrak November 2020 berada di level US$60,2 per ton, naik 0,75 persen. Adapun, harga batu bara telah mengalami kenaikan selama 6 hari perdagangan berturut.

Kendati demikian, sepanjang tahun berjalan 2020 harga batu bara masih mencatatkan pelemahan hingga 16,17 persen.

Sementara itu, Citigroup dalam publikasi riset terbarunya memperkirakan harga batu bara termal di Newcastle dalam jangka pendek berpotensi naik untuk menyentuh US$65 per ton.

Citigroup menjelaskan kenaikan itu akan didukung oleh meningkatnya permintaan dari importir utama China dan India. Perusahaan keuangan itu melihat terdapat potensi bagi China untuk melonggarkan pembatasan impor lebih awal daripada yang diharapkan.

Hal itu seiring dengan permintaan domestik China yang kuat sehingga pasokan dalam negeri dikhawatirkan tidak dapat memenuhi permintaan itu.

“Hal ini memungkinkan harga batubara termal yang diangkut melalui laut berpotensi naik lebih cepat dan lebih awal dibandingkan dengan estimasi kami,” tulis Citigroup dalam risetnya seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (23/9/2020).

Selain itu, perusahaan pembangkit listrik India tampak tengah meningkatkan aktivitas pengisian ulang cadangan batu baranya menjadi katalis positif tambahan harga untuk naik lebih tinggi.

Selain itu, perusahaan keuangan itu memperkirakan harga batu bara kokas keras atau hard cooking coal dapat bergerak di kisaran US$150 hingga US$200 per ton seiring dengan gangguan pasokan di Australia akibat fenomena cuaca La Nina.

Saat ini, harga batu bara kokas keras Newcastle berada di kisaran US$140 per ton.

Related Regular News: