Batu Bara Dekati Harga Tertinggi Agustus, Tanda Apa Ini?

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/20200916101013-17-187163/batu-bara-dekati-harga-tertinggi-agustus-tanda-apa-ini

 

Harga batu bara kontrak berjangka Newcastle kemarin ditutup menguat tipis. Kini harga batu bara termal tersebut semakin mendekati level tertingginya sejak Agustus.

Pada perdagangan Selasa (15/9/2020), harga batu bara ditutup naik 0,56% ke US$ 54,1/ton. Ini merupakan harga batu bara tertinggi sejak 5 Agustus 2020. 

Harga komoditas batu bara sepanjang tahun ini telah anjlok lebih dari 20%. Pelemahan permintaan global terutama dari India dan China akibat lockdown untuk mengendalikan wabah Covid-19 menjadi biang keroknya.

Di saat yang sama, momentum pandemi ini juga dimanfaatkan oleh banyak negara untuk beralih ke sumber energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan. Pangsa pasar renewable energy di negara-negara maju terutama Eropa untuk pembangkit listrik mengalami peningkatan.

Mengutip data Refinitiv, impor batu bara China pada Januari-Agustus 2020 adalah 183,2 juta ton. Turun 4,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kemudian impor batu bara India selama delapan bulan pertama 2020 adalah 113,48 juta ton. Anjlok 18,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sedangkan impor batu bara Korea Selatan dalam periode Januari-Agustus 2020 adalah 71,01 juta ton. Ambles 21% ketimbang periode yang sama pada 2019.

Lemahnya permintaan batu bara berujung pada penurunan harga. Harga batu bara acuan (HBA) bulan September juga masih lanjut terkoreksi. HBA September dipatok di US$ 49,42/ton. HBA bulan ini turun dari bulan sebelumnya yang masih berada di US$ 50,34/ton

Penurunan harga yang terus berlanjut tentu menekan kinerja keuangan para penambang dan eksportir, tak terkecuali Indonesia. Harga yang anjlok membuat penambang susah untuk mencapai titik impas (breakeven).

"Industri batu bara Indonesia berada dalam masalah secara struktural dan finansial setelah sejumlah perusahaan kesulitan mencapai break-even," kata kata Analis Keuangan IEEFA, Ghee Peh, yang juga penulis laporan 'No Bailout, Don Don't Throw Good Money after Bad' IEEFA, dikutip CNBC Indonesia, Senin (14/9/2020).

Prospek permintaan batu bara ke depan masih samar-samar. Masih terus meningkatnya kasus infeksi Covid-19 di berbagai negara membuat kehidupan normal masih belum akan terjadi dalam waktu dekat.

Meski pembatasan sudah dilonggarkan, bukan berarti laju roda perekonomian akan langsung melesat serta merta. Geliat ekonomi yang pulih perlahan tentu membuat kebutuhan energi pun mengalami hal yang sama. 

Dengan sektor komersial serta industri yang belum beroperasi penuh, otomatis kebutuhan listriknya juga belum bisa banyak. Alhasil permintaan untuk bahan bakar pembangkitnya terutama yang bersumber dari batu bara pun belum bisa diharapkan untuk rebound tinggi.

Related Regular News: