The 29th Clean Coal Day in Japan 2020 International Sympossium

Masa Depan Batubara di Era Transisi Energi

Krisis kesehatan global akibat Pandemi Covid-19 membuat dunia semakin sadar atas pentingnya menjaga keseimbangan alam dan pertumbuhan ekonomi. Persoalan pandemi Covid-19 juga dikaitkan dengan permasalahan lingkungan dan ekonomi yang membutuhkan pemulihan secara signifikan. Salah satu strategi pemulihan masalah lingkungan dan ekonomi yang cukup banyak mendapatkan sorotan dari sebelum dan saat pandemi Covid-19 adalah perihal energi bersih.

Sejumlah pemimpin di sektor energi dari berbagai dunia membahas peran batubara dan investasi di energi bersih dalam acara “The 29th Clean Coal Day in Japan 2020 International Symposium”. Simposium ini diselenggarakan secara virtual oleh Japan Coal Energy Center (JCOAL), bekerjasama dengan Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI), New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO), dan Japan Oil, Gas, and Metals National Corporation (JOGMEC) serta didukung oleh Kedutaan Besar di Tokyo.

Acara yang berlangsung selama 3 hari ini dibuka oleh Masayoshi Kitamura selaku Ketua Umum dari JCOAL dan Ryo Minami selaku Dirjen Sumber Daya Alam dan Bahan Bakar, Badan SDA dan Energi, METI. Pada sesi pembukan ini, Chief Executives dari World Coal Association (WCA), Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), dan ASEAN Centre for Energy (ACE) juga turut hadir untuk memberikan paparan sebagai Keynote Speakers.

Dampak Covid-19 di Sektor Energi Dunia

Meskipun Tiongkok berhasil melakukan pemulihan secara pesat di Maret 2020, Pandemi Covid-19 telah membawa dampak yang belum pernah terjadi sebelumnya pada ekonomi dan kehidupan sosial di negara tirai bambu tersebut. Dalam paparaannya, Sarah Liu, selaku Vice President dari Fenwei Energy Information Services, menjelaskan bahwa impor batubara Tiongkok di tahun 2020 diperkirakan turun menjadi 280 juta ton. Harga batubara termal kerap mengalami siklus naik-turun-naik-turun. Untuk bulan-bulan yang tersisa di 2020, harga batubara termal diperkirakan akan jatuh sebelum pembangkit listrik mulai mengisi ulang untuk persiapan musim dingin, namun koreksi harga itu menjadi terbatas ditengah pasokan yang masih terkendala. Disisi lain, kebijakan pemerintah Tiongkok untuk melakukan impor kuota juga semakin diperketat, menyebabkan pengurangan impor batubara.

Selaras dengan Tiongkok, India juga mengalami efek dahsyat dan signifikan yang kemungkinan besar akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi dan energi yang lebih rendah dan lambat yang diakibatkan dari Pandemi ini. Melihat kondisi pasokan batubara yang berlebih pada saat ini, India dinilai tidak perlu melakukan investasi baru yang substansial dalam pasokan energi selama beberapa tahun ke depan. Hal ini disampaikan oleh Thomas Spencer, Fellow Energy Program, The Energy Resources Institute (TERI). Disisi lain, pihaknya mengatakan bahwa dalam jangka panjang, permintaan energi dan material India diproyeksikan meningkat secara substansial, meskipun jumlahnya cukup besar, ketidakpastian mengenai tingkat dan struktur pertumbuhan. Tampaknya India akan mengikuti jalur yang lebih 'hemat', menyesuaikan pada layanan dan tingkat urbanisasi dan investasi infrastruktur yang lebih rendah. Pada kesempatan berikut, Spencer juga menyinggung soal teknologi inovasi untuk mengembangkan energi alternatif yang lebih efisien dan rendah karbon khusunya untuk permintaan batubara industri dan kokas.

Sebagaimana diketahui, terdapat 3 implikasi utama dari Pandemi Covid-19 yang terjadi pada ketahanan energi, antara lain, resiko manajemen dalam pasokan di setiap negara, ketegangan geopolitik, dan kerusakan ekonomi. Menurut pandangan Taishi Sugiyama, Research Director, The Canon Institute for Global Studies, sebelum menuju ke de-carbonization atau mengurangi penggunaan karbon di masa yang akan datang, Jepang dan negara-negara lain khususnya yang bergantung pada batubara sebagai sumber energi, harus mengkaji lebih dalam terkait dampak dan akibat untuk jangka panjang. Pada kenyataannya, batubara adalah satu-satunya energi yang berperan besar dalam memberikan pasokan listrik yang stabil dan murah untuk saat ini. Ketika situasi global sudah mulai berubah dimana pasar gas internasional, pasokan minyak, teknologi terbarukan bisa dipastikan dapat menyediakan energi yang stabil dan murah, de-carbonization bisa dilakukan perlahan dengan menurunkan faktor kapasitas.

 

Related Regular News: