Pengumuman! Harga Batu Bara Drop Lagi ke Bawah US$ 50/Ton

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/20200908101030-17-185122/pengumuman-harga-batu-bara-drop-lagi-ke-bawah-us--50-ton

 

Harga batu bara termal acuan Newcastle drop lagi ke bawah US$ 50/ton. Sampai saat ini belum tampak tanda-tanda pemulihan permintaan yang dapat mendongkrak harga batu legam ini.

Senin (7/9/2020), harga batu bara untuk kontrak yang aktif ditransaksikan melemah 0,99% ke level US$ 49,9/ton. Pada minggu pertama bulan September ini harga batu bara telah ambles 5,13%.

Tertekannya harga komoditas unggulan Indonesia dan Australia ini tak terlepas dari faktor permintaan yang lemah. Impor dari negara-negara konsumen batu bara di kawasan Asia Pasifik seperti China, India dan Jepang yang masih rendah.

Berdasarkan data Refinitiv Coal Flows, stok batu bara di pelabuhan utama China Qinhuangdao mulai turun dalam dua pekan terakhir bulan Agustus menjadi 4,81 juta ton hingga 28 Agustus 2020.

Meski stok mengalami penurunan, tetapi mengacu pada data Refinitiv Hidro Model menunjukkan bahwa penggunaan batu bara sebagai bahan bakar pembangkit listrik untuk bulan Agustus, September dan Oktober akan lebih banyak digantikan dengan pembangkit listrik tenaga air. 

Lagi pula harga batu bara domestik China dengan nilai kalori 5.500 Kcal/kg yang turun ke RMB 555/ton atau US$ 81,19/ton membuat China kemungkinan besar masih akan menerapkan kebijakan kuota impor batu baranya untuk mendongkrak permintaan domestik.

Harga batu bara domestik China memang turun. Namun harga saat ini masih berada di 'zona hijau' pada rentang RMB 500 - RMB 570 per ton. Zona hijau merupakan suatu istilah target informal rentang harga batu bara yang ditetapkan oleh otoritas terkait untuk menjaga profitabilitas produsen batu bara dan perusahaan utilitas.

Di sisi lain, harga gas yang sudah sangat rendah juga menjadi hal yang berpotensi menekan permintaan batu bara karena bisa memicu terjadinya substitusi dari konsumsi batu bara ke gas. 

Related Regular News: