EMITEN BATU BARA: Cari Peluang di Produk Premium

Sumber : https://market.bisnis.com/read/20200907/192/1288012/emiten-batu-bara-cari-peluang-di-produk-premium

 

 Emiten pertambangan mencari peluang dari kontribusi bisnis batu bara berkalori tinggi untuk menjaga kinerja keuangan tahun ini di tengah fluktuasi harga dan tekanan pelemahan permintaan batu bara termal.

Untuk diketahui, harga batu bara acuan atau HBA untuk periode September 2020 ditetapkan US$49,42 per ton atau turun tipis sebesar US$0,92 per ton dari harga acuan bulan sebelumnya, yakni US$50,34 per ton. Sepanjang tahun berjalan 2020, HBA telah terkoreksi 25,04 persen.

Sementara itu, harga batu bara Newcastle untuk kontrak September 2020 parkir di level US$50,25 per ton pada penutupan perdagangan Rabu (2/9/2020). Sepanjang tahun berjalan 2020, harga telah terkoreksi 29,72 persen.

Sekretaris Perusahaan PT United Tractors Tbk. Sara K. Loebis mengatakan bahwa pihaknya menargetkan kontribusi penjualan batu baru berkalori tinggi atau kokas melalui anak usahanya, PT Suprabari Mapanindo Mineral sebesar 1,2 juta ton.

Adapun, target itu sedikit lebih tinggi daripada realisasi sepanjang 2019 sebesar 1,15 juta ton. Secara keseluruhan, emiten berkode saham UNTR itu menargetkan penjualan batu bara sebesar 7,9 juta hingga 8 juta ton pada tahun ini.

Demand coking coal itu stabil, karena pasokannya juga tidak banyak,” ujar Sara kepada Bisnis, Kamis (3/9/2020).

Sebelumnya, Presiden Direktur United Tractors Frans Kesuma mengatakan bahwa pihaknya akan fokus untuk mendiversifikasi portofolionya dengan menggenjot lini bisnis batu bara non termal, salah satunya batu bara kokas.

Dia melihat potensi batu bara kokas akan semakin berperan ke depannya dibandingkan dengan batu bara termal yang terus mengalami banyak tekanan baik dari sisi penggunaan, cadangan, hingga terkait kebijakan ramah lingkungan.

Komitmen untuk fokus ke bisnis tersebut pun tercermin dari kinerja operasional UNTR per Juli 2020 yang menunjukkan penjualan batu bara berkalori tinggi sebesar 964.000 ton pada tujuh bulan pertama 2020, lebih tinggi dibandingkan dengan penjualan periode yang sama 2019 hanya sebesar 655.000 ton.

Sementara itu, Chief Financial Officer PT Adaro Energy Tbk. Lie Luckman mengatakan bahwa perseroan terus memacu kontribusi produksi batu bara kokas keras (hard cooking coal) melalui tambang Lampunut di konsesi Maruwai, Kalimantan Tengah.

Untuk diketahui, saat ini emiten berkode saham ADRO itu memiliki dua aset tambang batu bara kokas keras yaitu dari tambang Lampunut yang dikelola anak usaha PT Adaro Metcoal Companies (AMC) dalam konsesi Maruwai dan tambang di Australia melalui Kestrel Coal Mine (Kestrel).

"
Prospek bisnis batu bara kalori tinggi masih cukup menjanjikan ke depannya melihat demand yang masih baik pada segmen ini."

Setelah diakuisisi pada 2010, AMC memulai produksi tambang keduanya untuk pertama kali pada kuartal IV/2019, yakni tambang Lampunut yang berada di dalam konsesi Maruwai. Lalu, pada kuartal kedua tahun ini, berhasil melakukan pengapalan pertama ke Jepang dari tambang itu.

“Ke depan, kontribusi batu bara non termal ditargetkan bisa di kisaran 1 juta ton, dan pada tahap pertama kapasitas produksi mencapai 3 juta ton. Jadi kami terus mengusahakan meningkatkan produksi dari konsesi di Kalimantan Tengah itu,” ujar Luckman.

Dia menjelaskan prospek batu bara kokas keras sangat baik mengingat komoditas itu merupakan komponen utama dari produksi baja yang belum tergantikan. Jika dibandingkan dengan batu bara termal, cadangan batu bara kokas keras tidak banyak tersebar di dunia.

Dengan demikian, lini bisnis itu bisa memberikan kontribusi yang lebih tinggi terhadap pertumbuhan keseluruhan perseroan.

Sepanjang paruh pertama tahun ini penjualan batu bara melalui AMC sebesar 720.000 ton, naik 20 persen dari enam bulan sebelumnya dan 6 persen secara year on year.

Sementara itu, produksi batu bara yang dapat dijual melalui Kestrel mencapai 3,10 juta ton dan penjualan mencapai 3,25 juta ton pada semester I/2020, lebih rendah 10 persen dari enam bulan sebelumnya dan tidak berubah secara yoy.

Secara terpisah, Director & Corporate Secretary PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) Dileep Srivastava mengatakan akan memperkaya bauran produk batu bara di sisa tahun 2020, salah satunya dengan produksi batu bara yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar seperti menggenjot produksi batu bara kalori tinggi.

Inisiatif itu dilakukan untuk memperbaiki kinerja keuangan perseroan di sisa tahun setelah membukukan rugi bersih sepanjang semester I/2020 sebesar US$86,17 juta, berbanding terbalik dengan capaian semester I/2019 yang mencatatkan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar US$80,7 juta.

“Sepanjang paruh pertama 2020, rasio produksi BUMI antara batu bara kalori tinggi dan rendah adalah sebesar 2:1 dari total produksi 41 juta ton selama enam bulan pertama tahun ini,” ujar Srivastava kepada Bisnis, Selasa (1/9/2020).

Di sisi lain, Sekretaris Perusahaan PT Bukit Asam Tbk. Apollonius Andwie C. mengatakan bahwa rencana produksi batu bara kalori tinggi perseroan kemungkinan akan mengalami penyesuaian menyusul perubahan panduan produksi tahun ini.

Untuk diketahui, emiten berkode saham PTBA itu memangkas panduan produksi tahun ini dari semula sebesar 30,3 juta ton menjadi hanya sebesar 25,1 juta ton. Namun, perseroan belum menentukan panduan baru untuk produksi batu bara kalori tinggi.

Sebelumnya, PTBA menargetkan produksi batu bara kalori tinggi tahun ini sebesar 3,8 juta ton atau meningkat sekitar 10 persen dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya sebesar 3,5 juta ton.

“Namun, prospek bisnis batu bara kalori tinggi masih cukup menjanjikan ke depannya melihat demand yang masih baik pada segmen ini. PTBA akan mencermati dengan seksama pergerakan pasar, baik itu dari sisi demand maupun harga,” ujar Apollonius kepada Bisnis.

Related Regular News: