Aktualisasi Industri Pertambangan Batubara Menuju era Post Normal

Aktualisasi Industri Pertambangan Batubara Menuju era Post Normal

                APBI yang diwakili oleh Hendra Sinadia Direktur Eksekutif diundang dalam diskusi panel Industry Roundtable-2nd series yang dilaksanakan oleh “Jakarta CMO Club – Philip Kotler Center for ASEAN Marketing, Mark Plus dan Majalah Marketeers tanggal 1 September 2020 yang lalu. Acara ini bertema “Actualizing the Post Normal – Year 2021 & Beyond – Episode 1: Resources, Mining & Energy Industry Perspective” dibuka oleh pakar marketing, pendiri dari Mark Plus Hermawan Kartajaya. Selain dari APBI, panelis lain yang diundang antara lain dari industri kelapa sawit dalam hal ini GAPKI, kemudian dari perikanan (Perum Perindo), industri logam mulia (PT Aneka Tambang), serta Pupuk Kaltim.

                Pada masa post normal ini, berbagai konsekuensi atas pandemi COVID-19 telah dirasakan oleh berbagai industri dan menimbulkan ketidakpastian pada masa depan industri tersebut. Industri sumber daya, energi, dan tambang juga ikut merasakan dampak dari pandemi COVID-19 in pada aspek hulu (produksi dan operasional) dan aspek hilir (pemasaran dan distribusi) perusahaan. Memasuki era postnormal, pemain industri terus memutar otak dalam merumuskan berbagai strategi pada aspek hulu sampai hilir agar tetap dapat mempertahankan kelangsungan bisnis masing-masing. Implementasi atas strategi yang telah dirumuskan pun perlu dipertimbangkan oleh pemain industri sebab pemilihan penerapan strategi jangka pendek dan strategi jangka panjang menjadi kunci dalam bertahan di post-normal. Fenomena pandemi COVID-19 mendorong seluruh pemain industri sumber daya, energi, dan tambang untuk dapat mengakselerasi penerapan strategi dalam menghadapi krisis.

Meskipun penggunaannya yang tinggi dan harga yang lebih murah dibandingkan dengan jenis bahan bakar lainnya, sektor pertambangan batu bara mengalami penurunan tren bahkan sebelum pandemi COVID-19 merebak di Indonesia. Hal tersebut dikarenakan over supply yang terjadi di industri tambang batu bara yang tidak diimbangi dengan naiknya permintaan batu bara di pasar. Pangsa pasar utama batu bara Indonesia yaitu India dan Tiongkok juga mengalami penurunan permintaan. Selain itu, pangsa pasar domestik batu bara diperkirakan baru dapat pulih pada tahun 2022. Selain kondisi permintaan dan suplai tidak seimbang, tren harga batu bara juga terus melemah, bahkan mencapai titik terendahnya dalam lima tahun terakhir. Sebagai upaya untuk mempertahankan penyerapan batu bara, beberapa langkah taktis yang dilakukan yaitu: melakukan efisiensi menyeluruh, menjalankan safety & health protocol secara ketat demi kelancaran operasional tambang; memaksimalkan kontrak jangka panjang (long-term) & spot contract untuk pasar potensial; transformasi pemanfaatan batubara; dan memaksimalkan penyerapan batubara domestik.

Terdapat hal mendasar yang perlu dipahami oleh perusahaan yang akan mengambil langkah untuk beraktualisasi di masa post-normal, yaitu untuk tahun 2021 dan ke depannya, yakni dengan memotret kondisi pasar di medan perang. Sebagai contoh, ketika perusahaan ingin menciptakan kondisi interconnectivity dengan rekan bisnis di dalam ekosistemnya, maka perlu memetakan kondisi terkini dari tiap pemain yang terlibat, beserta pengaruh timbal-balik yang diberikan dengan perusahaan kita, secara khusus akibat COVID-19. Hal ini bertujuan agar sesama pelaku usaha dapat berkompromi dan menciptakan hubungan saling menguntungkan. Contoh lainnya adalah, ketika ingin mengintegrasikan value chain yang dimiliki, perusahaan perlu melakukan pemetaan terhadap aset yang dimiliki, bagaimana aset tersebut dapat dioptimalkan untuk menyediakan layanan yang terintegrasi dan end-to-end bagi pelanggan, hingga bagaimana perusahaan mengkomunikasikan keunggulan tersebut kepada pelanggannya. Terakhir, hal paling sederhana yang perlu dilakukan adalah dengan melakukan riset kepada pelanggan perusahaan yang bertujuan untuk mengetahui aspek apa saja yang dibutuhkan oleh pelanggan, yang kemudian dikombinasikan dengan sumber daya dan kemampuan yang dapat perusahaan tawarkan. Di tengah pandemi COVID-19, perusahaan mengalami ketidakpastian yang tinggi terkait bagaimana dan berapa lama hal ini akan mempengaruhi kondisi perusahaan, beserta beberapa anomali yang mungkin juga dirasakan oleh perusahaan. Tentunya pengambilan keputusan ini akan memberikan dampak signifikan baik dalam jangka pendek hingga panjang, sehingga perusahaan tidak ingin mengambil risiko di awal dengan mengambil langkah yang salah.

               

---000---

Related Regular News: