Melesat Akhir Pekan Lalu, Harga Batu Bara Rawan Digoyang

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/20200803103047-17-177039/melesat-akhir-pekan-lalu-harga-batu-bara-rawan-digoyang

 

Usai menyentuh harga terendah sejak Mei lalu, harga batu bara termal Newcastle mulai bergerak naik. Namun kenaikan ini belum mencerminkan faktor fundamentalnya melainkan lebih ditopang oleh faktor teknikal.

Jumat (31/7/2020), harga batu bara untuk kontrak yang aktif diperjualbelikan menguat 1,05% ke US$ 52,7/ton. Harga batu bara mencoba bangkit dari keterpurukan meski dengan masih minimnya katalis positif dari sisi fundamental.

Kabar kurang mengenakkan masih terus datang dan membuat harga batu bara susah rebound tinggi ke level awal tahun. Pandemi virus corona membuat permintaan listrik di sektor industri dan komersial anjlok sehingga turut mempengaruhi permintaan batu bara.

Di sisi lain pergerakan harga gas yang juga turun ditambah dengan pasokan yang banyak membuat batu bara menjadi kurang kompetitif sehingga banyak konsumen yang mulai beralih ke gas. Salah satunya India sebagai konsumen batu bara terbesar kedua di dunia setelah China. 

Reuters melaporkan konsumsi gas pada pembangkit listrik di India mencapai 104,83 juta standard meter kubik per hari (mmscmd) pada kuartal kedua tahun ini. Konsumsi gas naik 11,7% (yoy) dibanding periode yang sama tahun lalu. 

"Saya percaya bahwa ada peralihan dari batu bara yang terjadi dan impor batu bara untuk pembangkit listrik kemungkinan tidak kompetitif jika disandingkan dengan LNG (gas alam cair)" kata Vivek Mittal general manager untuk pemasaran di Petronet dalam sebuah conference call sebagaimana dikabarkan Reuters.

Pada saat yang sama penjualan batu bara di India juga anjlok ke level terendah dalam 4 tahun. Impor batu bara untuk sektor pembangkit listrik di India juga melemah dalam periode 7 tahun terakhir. 

Jika tren ini terus berlanjut, maka harga batu bara bisa terus tertekan dan susah bangkit. Apalagi di tengah kondisi pemulihan ekonomi yang kian tak pasti dengan berbagai risiko yang datang dari perkembangan pandemi Covid-19 dan tensi geopolitik Washington-Beijing dan Canberra-Beijing.

Related Regular News: