ASEAN Coal Business Roundtable Dialogue

1st ASEAN Coal Business Roundtable Dialogue

Untuk kali pertama, ASEAN menggelar Coal Business Roundtable Dialogue secara virtual yang di selenggarakan oleh Myanmar dan Kambodia (8/7). Acara ini merupakan platform bagi para pemangku kepentingan batubara untuk bertukar pandangan dan gagasan tentang peran baru batubara, teknologi dan kebijakan batubara yang bersih, praktik-praktik terbaik industri batubara, serta peluang kerjasamanya antar negara-negara ASEAN dan akan menjadi acara rutin yang diadakan setiap 2 tahun sekali.

Acara ini terbagi menjadi 2 sesi yang membahas tentang peran baru batubara dalam ekonomi yang rendah karbon dan transisi energi, dan peluang bisnis batubara di masa depan, kebijakan, teknologi berkembang, dan partisipasi sektor swasta dalam ekonomi rendah karbon. Pada kesempatan ini, Hendra Sinadia, selaku Direktur Eksekutif APBI-ICMA, bertugas sebagai moderator dan memimpin diskusi di sesi ke 2.

Adapun pada sesi pertama terkait dengan tema Coal New Role in Low Carbon Economy/Energy Transition, sementara pada sesi kedua ini yang dimoderatori oleh Hendra Sinadia berkaitan dengan ASEAN Future Coal Business Opportunities, Policy, Emerging Technology, and Private Sector Participation in Low Carbon Economy. Pada sesi kedua pembicaranya adalah Mr. Ze Lum, Shwe Taung Co, Myanmar, Mr. Cameron Tough, Head of International Marketing of PT Adaro Indonesia, Mr. Abdul Halim Othman, TNB Fuel Services, Ms. Maria Anna M. Agbunag, VicePresident of Global Business Power, BANPU Thailand.

Dalam paparannya, Ze Hlum, Head of Mining, Shwe Taung Co. Myanmar menyampaikan beberapa tantangan di sektor pertambangan yang masih dihadapi di negaranya antara lain adalah metode penambangan bawah tanah tradisional yang diterapkan dan menjadi tidak aman. Karenanya hal itu harus diperbaiki dengan teknik penambangan yang lebih canggih untuk meningkatkan produksi, pemulihan penambangan yang baik serta memenuhi permintaan batubara di masa depan.

Di sisi kebijakan, negara Filipina yang merupakan salah satu negara importir batubara dari Indonesia sudah mulai menghimbau untuk mengurangi konsumsi batubaranya. Pada tanggal 5 Juni lalu, Komite Kongres Filipina untuk Perubahan Iklim menyetujui Resolusi Dewan 761 yang menyerukan tanggapan darurat iklim, yang mencakup tidak mengizinkan pabrik batubara baru. Hal ini disampaikan oleh Maria Anna M. Agbunag, Vice President, Global Business Power, Philippines.

Menanggapi hal-hal tersebut, Cameron Tough, perwakilan dari PT. Adaro Energy Tbk, mengungkapkan bahwa batubara akan menjadi bagian penting dari bauran energi di Asia karena kegunaannya sebagai bahan dasar listrik. Namun demikian, pihaknya mengakui bahwa batubara sedang dihadapkan oleh banyak tantangan akibat pandemi, kekhawatiran lingkungan, persaingan dari energi lain, dll.

Oleh karena itu, Tough membagikan beberapa solusi melalui teknologi dan inovasi yang sudah dan akan dilakukan oleh perusahannya, antara lain:

Mengganti bahan bakar dengan menggunakan bahan bakar B30 seperti yang dipersyaratkan/anjurkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, RI.

Memperbaiki proses penambangan dengan meningkatkan produktivitas dan menghilangkan redundansi.

Menambahkan sumber terbarukan ke pasokan listrik dengan memasang photovoltaic surya untuk menggantikan beberapa genset diesel di Kelanis.

Mengoptimalkan kegiatan transportasi / logistik dengan menggunakan GPS untuk memantau pergerakan truk dan menghindari kemacetan.

Berdasarkan perhitungan intensitas emisi GRK, Adaro Energy berhasil mengurangi intensitas GRK sebesar 8,33% y-o-y dari 0,036 ton setara CO2 pada 2018 menjadi 0,033 ton setara CO2 pada 2019.

Related Regular News: