Webinar APBI Learning Center: Indonesian Coal Roundtable DMO Series

"Menakar Demand Batubara Domestik Pasca Covid-19"

 

Pandemi Covid-19 telah memberikan berdampak pada penurunan permintaan batubara untuk industri baik ekspor maupun domestik. Melihat kondisi yang terjadi saat ini secara nasional akan mempengaruhi semua industri terutama adanya pengurangan pemakaian tenaga listrik yang menyebabkan permintaan batubara oleh Perusahaan Listrik Negara maupun usaha lainnya dan akan berpengaruh terhadap persentase pemenuhan Domestic Market Obligation (DMO).

Maka itu melihat kondisi ini APBI menyelenggarakan webinar dengan mengundang para narasumber yang berkompeten di bidangnya yaitu M. Wafid selaku Direktur Pembinaan Program Mineral dan Batubara, Ditjen Minerba, Harlen selaku Executive Vice President Batubara PT PLN (Persero), Arthur Simatupang selaku Ketua Umum APLSI, Aryan Warga Dalam selaku Ketua Umum APKI dan Widodo Santoso selaku Ketua Umum ASI.

Sebelumnya pada awal tahun 2020 berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang dipaparkan oleh M. Wafid, proyeksi kebutuhan DMO untuk tahun ini adalah sebesar 155 juta ton dan bahkan diperkirakan akan meningkat. Namun dikarenakan pandemi Covid-19 kebutuhan DMO terkoreksi menjadi 141,077 juta ton. Sebagai penyesuaian atas kondisi yang terjadi pada saat presentase pemenuhan DMO yang menjadi kewajiban sebesar 25% dari produksi nasional sebagaimana tertuang dalam Kepmen ESDM Nomor: 261.K/30/MEM/2019, akan disesuaikan menjadi 18% dari produksi nasional.

Penurunan permintaan batubara untuk dalam negeri ini terjadi akibat penurunan permintaan batubara untuk kebutuhan listrik, hal ini pun disampaikan oleh Harlen. Selisih penurunan sekitar 20 juta ton yang semula kebutuhan untuk kelistrikan ditargetkan 109 juta ton namun setelah covid ini menjadi 87,5 juta ton. Untuk industri semen pun mengalami penurunan sekitar 2 juta ton. Namun yang menarik terjadi di industri kertas dan smelter. Untuk industri kertas diperkirakan naik sekitar 1 juta ton yang semula 6,6 juta ton kini menjadi 7,4 juta ton, sementara untuk smelter meningkat sampai dengan 7 juta ton yang semula 16,5 juta ton menjadi 23,9 juta ton.

Walau dengan kondisi tersebut perusahaan batubara tetap berupaya untuk memenuhi domestik sebagai bentuk nyata kepatuhan atas aturan yang berlaku. Realita yang ada pada saat ini adalah pelaku industri batubara masih terkendala dengan kondisi pandemi saat ini yang mana akan sulit untuk mencapai pemenuhan DMO, terlebih bagi perusahaan yang memproduksi batubara yang kualitasnya tidak diserap oleh PLN ataupun industri lain yang mendapatkan pasokan dari suplai batubara domestik.

Related Regular News: