Pergerakan Komoditas Batubara di India selama Pandemi serta Pengaruhnya terhadap Pasar Batubara Indonesia

Seperti halnya negara berkembang yang lain, pemerintah India tengah berupaya mengembalikan ekonomi yang menurun drastis akibat pandemi serta kebijakan lockdown yang khusunya berpengaruh pada penggunaan listrik selama lebih dari 3 bulan ini. Pada 18 Juni lalu, pemerintah India mengumumkan kebijakan untuk memprivatisasi tambang batubara, visinya antara lain adalah untuk menjadikan India sebagai produsen dan eksportir batubara yang unggul secara global, dan dalam misinya untuk membangun proyek gasifikasi senilai 100 juta ton dengan investasi 3 miliar USD pada tahun 2030. Informasi tersebut disampaikan oleh Prashant Goyal, perwakilan dari OPG Power Ventures di India dalam rangkaian acara coal market series yang diselenggarakan oleh Petromindo (24/06). Namun Goyal menilai rencana pemerintah untuk menghentikan impor batubara tidak dapat dilakukan sesederhana itu, selain karena kendala logistik dan biaya, India masih membutuhkan jenis batubara seperti yang di miliki Indonesia dengan kalori rendah untuk proses blending guna kebutuhan-kebutuhan di industri negaranya. Selain itu, sulit bagi para pembangkit listrik saat ini untuk beralih ke campuran batubara tertentu ke campuran lainnya.

Pada kesempatan yang sama hadir juga perwakilan dari APBI-ICMA, yaitu Hendri Tamrin selaku Wakil Ketua Bidang V Marketing & Logistik sebagai salah satu Narasumber, dan Hendra Sinadia selaku Direktur Eksekutif yang bertugas sebagai Moderator pada acara tersebut.

Ketua Bidang V APBI-ICMA ini menyampaikan pada normalnya impor batubara termal di India berkisar antara 10 hingga 15 Juta Ton per bulan, namun angka ini menurun drastis pada bulan Mei 2020 diakibatkan efek dari pandemi Covid-19. Pada saat yang sama, pangsa ekspor batubara termal Indonesia ke India juga turun seiring waktu, di bawah 70% pada bulan April-20. Menurut Hendri, dengan prospek ekonomi makro yang lemah, dan karena Indonesia memiliki eksposur yang tinggi terhadap permintaan India sebagai negara tujuan eksport kedua terbesar, pasokan batubara termal Indonesia perlu dikurangi. Berbicara mengenai kebutuhan konsumsi batubara di India, Hendri menambahkan bahwasannya Indonesia masih memiliki kualitas batubara yang dibutuhkan, pasokan yang konsisten, serta harga yang kompetitif untuk membantu India memulihkan kegiatan industri di negaranya.

Senada dengan Hendri Tamrin, IHS Markit yang diwakili oleh James Stevenson dan Abishek Rakshit, juga menyampaikan bahwa persediaan batubara domestik saat ini sangat tinggi, antara utilitas, produsen, industri dan pelabuhan. Persediaan ini perlu dikurangi terlebih dahulu, sebelum terjadi kegiatan impor pada saat keadaan sudah memasuki normal. IHS Markit memperkirakan bahwa impor India akan mengalami penurunan sebanyak 30 Juta Ton tahun ini, dan akan berdampak negatif bagi ekspor Indonesia ke India di tahun-tahun mendatang. 

Sebagai informasi, APBI Learning Center akan membahas lebih dalam terkait peluang dan tantangan pasar komoditas batubara antara India – Indonesia selama pandemi ini dalam Indonesian Coal Roundtable (ICR): Export Series yang akan diselenggarakan pada awal Juli 2020. 

 

---000---

 

Related Regular News: