Kendali harga batubara masih ada di tangan China

Sumber : https://investasi.kontan.co.id/news/kendali-harga-batubara-masih-ada-di-tangan-china

Banyak tekanan di awal 2020, pergerakan harga batubara global di sisa 2020 diyakini masih berpotensi mengalami rebound, meskipun terbatas. Hal ini didukung oleh besarnya kendali harga oleh konsumen terbesar yakni China. 

Adapun pelemahan harga yang terjadi sepanjang awal 2020, didominasi sentimen penyebaran virus Korona yang turut berdampak besar bagi pergerakan harga komoditas secara global.

Meskipun begitu, Analis Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono menilai penurunan harga batubara dari Januari 2020 hingga saat ini masih lebih baik ketimbang komoditas lainnya. Apalagi dibandingkan dengan pergerakan harga minyak global yang sempat berada di area negatif, pergerakan harga batubara 2020 masih terkendali.

Sebagaimana diketahui, faktor penyebaran virus Korona atau Covid-19, turut mempengaruhi supply dan demand batubara sepanjang tahun ini. Pasalnya, banyak pabrik dan aktifitas ekonomi di beberapa negara yang berkurang, bahkan berhenti dan membuat permintaan akan batubara ikut melunak. 

Ditambah lagi, Wahyu menilai negara super power (seperti China dan Amerika Serikat) turut memanfaatkan momentum ini untuk melakukan hoarding atau menimbun cadangan, terutama komoditas strategis seperti minyak dan batubara.

Apalagi, secara keseluruhan batubara tidak memiliki masalah kontrak, storage atau penyimpanan, bahkan terkait pengiriman. "Pergerakan dan sentimen harga batubara cukup simple dan lebih mudah diatur," kata Wahyu kepada Kontan, Senin (15/6).

Selain itu, Wahyu mengaku bahwa harga batubara idealnya melorot ke level US$ 40 per  ton, namun faktanya harga masih bisa bertahan di kisaran US$ 50 per ton. 

Mengutip Bloomberg, pergerakan harga batubara turun sebanyak 25,57% year to date (ytd). Harga telah turun dari level US$ 70,40 per ton pada 30 Desember 2019, menjadi US$ 52,40 per ton pada perdagangan Kamis (11/6).  "Ini karena, dari sisi storage batubara cukup mudah, ditambah lagi harga cukup mudah di-manage oleh China apabila terjadi kelebihan pasokan," jelasnya.

Wahyu menekankan bagaimanapun China jadi pemakai sekaligus pengguna utama coal di dunia. Untuk itu, sentimen batubara lebih baik dibandingkan konflik kepentingan, Saudi, Rusia dan AS yang mempengaruhi pergerakan harga minyak dunia.

Ke depan, Wahyu menilai sentimen harga komoditas masih sangat bergantung pada solusi virus dan dampaknya terhadap resesi global. Syaratnya, ekonomi harus pulih pasca pandemi, maka saat itu harga komoditas termasuk batubara diharapkan bisa kembali pulih.

Di samping itu, harga batubara masih cukup rentan terhadap prospek pertumbuhan ekonomi yang dipacu tumbuh, namun rentan anjlok begitu kepanikan pasar meningkat. Namun, peluang untuk harga batubara rebound lebih besar ke depan, meskipun cukup terbatas.

"Setidaknya lower consolidation jadi gerakan wajar, dengan potensi rebound cukup besar namun terbatas. Rekomendasi buy on weakness saat harga bergerak di bawah US$ 50 per ton, dan sell on strength saat di atas US$ 60 per ton," ujarnya.

Selanjutnya, untuk jangka panjang harga diperkirakan bergerak pada rentang US$ 40-US$ 120 per  ton, proyeksi untuk konsolidasi tahunan di rentang US$ 50-US$ 60 per ton, dan jangka menengah pada rentang US$ 50-US$ 70 per  ton.

"Untuk mingguan diperkirakan ada di rentang US$ 50 per ton hingga US$ 60 per ton, sedangkan harian di rentang US$ 50-US$ 56 per ton," tandasnya.

Related Regular News: