Permintaan Batu Bara Anjlok, APBI Perlu Pengendalian Produksi

Sumber : https://jambi.tribunnews.com/2020/06/03/permintaan-batu-bara-anjlok-apbi-perlu-pengendalian-produksi?page=all

 

Sebagai imbas dari pandemi corona (covid-19), permintaan (demand) batu bara global ditaksir bakal anjlok lebih dari 70 juta ton di tahun ini.

Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) memprediksi, demand batubara domestik pun bakal mengalami penurunan yang signifikan.

Direktur Eksekutif APBI Hendra Sinadia menyampaikan, kondisi tersebut utamanya dipicu oleh melemahnya permintaan dari pasar utama batu bara, seperti China dan India, yang menerapkan kebijakan lockdown sejak beberapa waktu lalu.

Sehingga dalam perhitungan wajar, demand di tahun ini bisa berkurang lebih dari 70 juta ton dibanding proyeksi awal tahun, sebelum adanya pandemi covid-19.

Apalagi, kondisi perekonomian dunia hingga akhir tahun pun tampaknya belum mampu mendorong konsumsi energi, termasuk permintaan batu bara ke level normal. Bahkan, bisa jadi permintaan batu bara malah semakin anjlok.

"Kondisi di kuartal II hingga kuartal IV permintaan batubara akan semakin melemah mengingat belum membaiknya kondisi perekonomian dunia salah satunya akibat pandemi covid-19," kata Hendra kepada Kontan.co.id, Rabu (3/6).

Tak hanya di pasar global, pelemahan demand pun diprediksi bakal terjadi di pasar domestik. Maklum, sebagian besar konsumsi batu bara dalam negeri diserap untuk kebutuhan listrik. Namun dengan adanya pandemi covid-19, kata Hendra, konsumsi listrik berkurang yang kemudian berimbas pada merosotnya permintaan batu bara oleh PLN.

Hendra bilang, konsumsi batu bara dalam negeri ditaksir hanya berkisar di angka 100 juta ton.

"Menurut estimasi kami dari beberapa sumber, permintaan batubara domestik menurun drastis. Jauh lebih rendah dibandingkan dengan rencana yang ditetapkan Pemerintah yaitu sebesar 155 juta ton," ungkapnya.

Dia pun menilai, dalam kondisi pasar yang oversupply tersebut, kepentingan untuk mengendalikan produksi komoditas batu bara menjadi semakin urgent. Kendati begitu, Hendra menyadari bahwa hal tersebut bukan lah persoalan yang mudah, khususnya untuk pengendalian produksi izin-izin pertambangan di daerah (IUP) di bawah kendali pemerintah daerah.

Di sisi lain, pengendalian produksi batu bara juga bakal berdampak terhadap penerimaan negara. "(Pengendalian produksi) Ini bisa menjadi solusi untuk sementara waktu, namun tentu tidak mudah bagi pemerintah mengingat target penerimaan negara yang masih cukup penting apalagi di tengah kondisi keuangan negara yang sedang sulit," terang Hendra.

Terkait dengan pengendalian produksi ini, Hendra pun mengaku belum menerima laporan terkait pengajuan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) oleh anggota APBI kepada Kementerian ESDM. Dia menyebut, perubahan target produksi perusahaan masih sulit diprediksi. Paling tidak, masih perlu beberapa minggu untuk mempertimbangkan kondisi harga dan pasar batu bara.

"Perusahaan tambang masih mencermati keadaan untuk beberapa minggu ke depan. Namun untuk perusahaan-perusahaan IUP di daerah, kami belum tahu pasti kondisinya seperti apa," sebut Hendra.

Menurutnya, apabila dampak pandemi Covid-19 berlanjut di tengah kondisi pasar yang sangat oversupply, maka target RKAB awal yang diajukan perusahaan ditaksir tidak dapat tercapai. Kondisi ini memungkinkan terjadinya revisi RKAB.

 

Selalu Melebihi Target

DALAM beberapa tahun terakhir, realisasi produksi batubara selalu meroket dari target. Sebagai gambaran, dalam catatan Kontan.co.id, pada tahun 2018, saat itu target di RKAB ditetapkan sebesar 485 juta ton. Tapi, realisasi produksi di tahun itu menanjak menjadi 557 juta ton.

Sedangkan pada tahun lalu, target awal dalam RKAB dipatok di angka 489,12 juta ton. Namun, realisasi produksi hingga akhir tahun 2019 menanjak hingga menjadi 616 juta ton. Pada tahun ini, produksi batubara ditargetkan mencapai 440 juta ton dengan alokasi untuk kebutuhan domestik sebesar 155 juta ton.

Hingga periode Kuartal I, realisasi produksi terbilang masih normal. Berdasarkan data dari Kementerian ESDM, realisasi produksi batubara nasional hingga April 2020 mencapai 187 juta ton atau setara dengan 34% dari target tahun 2020.

Related Regular News: