Industri Hilir Batu Bara Masuk Kutai Timur

Sumber : https://kaltim.prokal.co/read/news/371814-industri-hilir-batu-bara-masuk-kutai-timur

 

PT Bakrie Capital Indonesia (BCI), PT Ithaca Resources, dan Air Products menjalin aliansi strategis membangun industri metanol di Batuta Industrial Chemical Park, Bengalon, Kutai Timur, Kaltim. Industri hilir batu bara pertama di Bumi Etam ini ditargetkan beroperasi pada 2024 mendatang.

Berdasarkan kontrak jangka panjang tersebut, PT BCI dan PT Ithaca Resources akan memasok bahan baku batu bara dan telah berkomitmen mengambil alih produksi metanol untuk dipasarkan di Indonesia. Batu bara yang dipasok dari tambang milik PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Ithaca Resources tersebut kemudian diolah oleh fasilitas produksi milik Air Products menjadi metanol.

Direktur Batuta Coal Industrial Port (BCIP) Harsa Wardana mengatakan, saat ini BCIP sudah melakukan kesepakatan untuk membangun kawasan tersebut. Proyek yang diklaim mampu memproduksi 1,8 juta ton metanol per tahun ini diharapkan beroperasi pada 2024.

Ke depannya, industri metanol akan mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM) secara signifikan dan pada akhirnya akan mengurangi tekanan pada mata uang rupiah. Industri itu akan masuk dan mulai membangun di Kaltim pada 2021, lahannya sudah siap dibangun. Lahan di kawasan itu ada sebagian sudah dibeli, ada yang disewa. “Nanti kita siapkan lahannya, lalu PT BCI akan langsung membangun kawasannya,” jelasnya, Senin (18/5).

Wardana menjelaskan, kawasan Industri Kimia Batuta Coal Industrial Port (BCIP) memiliki 1.000 hektare. Lokasi yang dipilih adalah di Kecamatan Sangkulirang, Kaliorang dan Bengalon (Lubuk Tutung), Kabupaten Kutai Timur, Kaltim. Pembangunan industri biasanya hanya berlangsung dua tahun. Namun khusus proyek ini, karena lebih sulit akan memakan waktu lebih lama.

Pada 2021 membangun, kemungkinan baru akan beroperasi pada 2024 mendatang. “Wacana pembangunan pabrik ini sudah ada di mana-mana namun realisasinya di Kaltim. Ini merupakan pabrik batu bara pertama kita,” pungkasnya.

Terpisah, Gubernur Kaltim Isran Noor mengatakan investasi itu memang sudah dibicarakan. Nantinya industri itu akan mengolah batu bara dengan kalori rendah dan industri gas. “Kita akan siapkan seluruhnya. Kita akan permudah investor jika serius ingin membangun industri di Kaltim. Karena itu milik swasta, jadi sepenuhnya anggaran ada pada pihak swasta yang membangun,” ungkapnya.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menuturkan kebutuhan metanol di Indonesia telah mencapai 1,1 juta ton pada 2019. Sementara itu, Indonesia hanya memiliki satu produsen metanol, yaitu PT Kaltim Methanol Industri di Bontang, dengan kapasitas sebesar 660 ribu ton per tahun.

Alhasil, rencana pembangunan coal to methanol di BCIP di Kutai Timur menjadi angin segar. Karena diproyeksi akan mengolah 4,7–6,1 juta ton batu bara menjadi 1,8 juta ton metanol per tahun. “Proyek coal to methanol dengan proses gasifikasi batubara merupakan industri pionir di Indonesia. Hingga saat ini belum ada industri kimia dengan teknologi proses gasifikasi batu bara,” terangnya.

Agus berharap, konsorsium rencana pembangunan coal to methanol ini dapat dilaksanakan dengan baik dan lancar hingga beroperasi secara komersial nantinya. “Dalam mendukung pelaksanaan proyek coal to methanol Kemenperin juga akan senantiasa mendampingi pelaksanaan proyek ini dan akan turut membantu mengatasi permasalahan teknis yang muncul,” tegasnya.

Menurut Agus, industri metanol merupakan industri petrokimia yang memegang peranan sangat penting bagi pengembangan industri di hilirnya. Bahan baku metanol sangat dibutuhkan dalam industri tekstil, plastik, resin sintetis, farmasi, insektisida, dan plywood. Metanol juga berperan sebagai antifreeze dan inhibitor dalam kegiatan migas.

Selain itu, metanol juga salah satu bahan baku untuk pembuatan biodiesel dan dapat diolah lebih lanjut menjadi Dimethyl Ether (DME) sebagai produk bahan bakar. “Metanol akan terus memainkan peran penting sebagai bahan baku utama di industri kimia. Hal tersebut secara pasti akan membuat kebutuhan metanol meningkat di masa mendatang,” ungkap Agus.

Proyek ini sejalan dengan target Pemerintah menerapkan penggunaan biodiesel B40 pada 2022 dan bertahap menjadi B100 pada 2024-2025. “Karena banyak dibutuhkan, maka industri metanol didorong agar tumbuh terus,” ujarnya.

Pemerintah memastikan akan mendukung hilirisasi batu bara karena Indonesia memiliki potensi cadangan batu bara medium range yang sesuai digunakan untuk likuifikasi menjadi methanol. Saat ini sektor industri dituntut untuk menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional karena sektor industri berperan penting dalam menciptakan nilai tambah, perolehan devisa dan penyerapan tenaga kerja yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pada 2019, kontribusi sektor industri pengolahan non-migas merupakan penyumbang terbesar Produk Domestik Bruto (PDB) nasional yang mencapai angka 17,58 persen atau sekitar Rp 2.784 triliun. “Kontribusi industri bahan kimia dan barang kimia pada 2019 mencapai 1,16 persen atau sekitar Rp 184 triliun, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 1,12 persen,” sebutnya.

Related Regular News: