Aksi Iklim 'Bersuara untuk Bumi', Hentikan Energi Kotor PLTU Batu Bara

Sumber : https://www.bengkulutoday.com/aksi-iklim-bersuara-untuk-bumi-hentikan-energi-kotor-pltu-batu-bara

 

Di tengah maraknya wabah virus covid-19/corona, tentu tidak lupa bahwa pada 22 April adalah peringatan hari bumi, dimana semua elemen menyuarakan kecintaannya terhadap bumi.

Sejak 1970, sudah 49 tahun umat manusia memperingati hari bumi untuk penyelamatan lingkungan dari ancaman krisis iklim. Namun bukannya menyelamatkan dan memulihkan, penguasaan dan pengerusakan sumber daya alam semakin hari semakin merajalela.

Ada dua faktor utama penyebab perubahan iklim adalah Pengerukan dan pembakaran batu bara, kebakaran hutan dan pembukaan lahan. Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara menjadi penyumbang emisi yaitu sebesar 30 persen dari emisi CO2 global. Pada tahun 2018, dengan peningkatan 2,9%, atau 280 Metrik Ton (Mt), dibandingkan dengan level 2017, melebihi 10 Giga ton (Gt) untuk pertama kalinya (https://www.iea.org/reports/global-energy-co2-status-report-2019/emissions).

 

Indonesia menjadi salah satu penyumbang polusi terbesar di Asia Tenggara

Hal ini bertolak belakang dengan cita-cita dalam perjanjian paris 2015 tentang perubahan iklim, yaitu  pembatasan kenaikan suhu global di bawah 2 derajat Celcius serta berupaya membatasi kenaikan hingga 1,5 derajat Celsius.

Ambisi Indonesia menambah 35.000 Megawatt (MW) listrik sayangnya masih mengandalkan 60 persen energi fosil batu bara. Berdasarkan data Kementerian Energi Sumber Daya Mineral, energi terbarukan di sektor pembangkit listrik baru terealisasi 12 persen dari target 23 persen sampai 2025.

Pembakaran batu bara menjadi pemicu emisi terlebih dahulu merusak kawasan hulu di mana batu bara dikeruk. Di Provinsi Bengkulu, luas konsesi pertambangan yang sudah diizinkan kurang lebih 21.694 hektar dan ada 33 lubang tambang batubara yang belum direklamasi. (https://www.google.com/amp/s/www.mongabay.co.id/2019/06/23/habis-banjir-terbitlah-petisi-tutup-tambang-di-bengkulu/amp/)

Tidak hanya itu, ada 53.037,68 ha hutan Bengkulu sedang diusulkan akan dialihfungsikan dan diduga 30.059 ha untuk pertambangan batu bara dan 11.317,58 ha untuk perusahaan sawit skala besar.

Batu bara diangkut menggunakan truk dari tambang ke stockpile yang membuat jalan rusak, intensitas debu batub bara meningkat. Sedangkan di stockpile yang berada di Teluk Sepang, model pengelolaannya yang sembarangan membuat tingkat polusi dan kerusakan lingkungan semakin tinggi.

Sementara di hilir batu bara dibakar di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batu bara di Kelurahan Teluk Sepang. Sebanyak 2.732,4 ton batu bara akan dibakar di PLTU batu bara Teluk Sepang Bengkulu.

Pembakaran ini menghasilkan abu sebanyak 39,85 ton per jam terdiri dari abu terbang ( fly ash) 11,23 ton/jam dan abu yang mengendap 25,61 ton/jam. Hasil pembakaran juga melepaskan bahan berbahaya dan beracun seperti PM2.5, Sox, NOx, serta logam berat mercuri dan arsenic. Dampaknya terhadap kesehatan yaitu menyebabkan penyakit-penyakit kronis seperti penyakit pernapasan, asma, stroke, kanker, penyakit jantung dan kematian dini.

Penelitian yang dilakukan oleh Xiao Wu MS dan Rachel C. Nethery PhD dari Departement of Biostatistics Universitas Harvard T.H. Chan Scool of Publik Health bahwa dari data 3.000 daerah di Amerika Serikat, setiap kenaikan polusi udara PM2.5 sebesar 1µg/m3 tingkat kematian akibat COVID-19 naik 15%. (https://hijauku.com/2020/04/16/polusi-udara-tingkatkan-kematian-covid-19/)

Jadi, orang-orang yang sudah terpapar polusi udara maka risiko kematiannya tinggi jika terinfeksi COVID-19.

Maka sangat penting sekali untuk menghentikan sumber polusi udara, baik saat krisis pandemic maupun setelah krisis pandemic COVID 19 berakhir.

Hari Bumi 2020 atau peringatan ke 50 tahun ini, mengajak generasi baru aktivis lingkungan dan melibatkan jutaan orang di seluruh dunia untuk terlibat dalam gerakan Climate Action atau Aksi Iklim.

Kanopi bersama para generasi milenial mengadakan aksi digital menyampaikan pesan kepada pemimpin Negara, politisi dan pengambil kebijakan lainnya untuk berkomitmen menghentikan penggunaan energi kotor dan beralih ke energi terbarukan demi generasi yang akan datang. Pesan dikirim melalui media sosial kepada Presiden Joko Widodo, Menteri ESDM, Ketua DPR RI dan Menteri LHK mulai dari 20 -22 April.

Koordinator aksi Frengki Wijaya mengatakan aksi ini sudah dimulai sejak 20 April 2020 dari berkirim pesan sampai diskusi online melalui zoom dengan tema  suara milenial untuk bumi.

"Kami mengajak semua orang untuk bertindak dan bersuara untuk bumi atas krisis iklim yang terjadi," seru Frengki.

Ditambah Olan Sahayu selaku Juru Kampanye Energi Kanopi Hijau Indonesia mengatakan aksi menyampaikan pesan kepada pengambil kebijakan agar segera berhenti kecanduan batu bara dengan menghentikan semua aktivitas yang dilakukan PLTU batu bara Teluk Sepang.

"Dari Januari 2020, sudah ada dua indikasi pelanggaran yang dilakukan yaitu membuang limbah ke laut tanpa izin dan pengelolaan limbah B3 yang sembarangan yaitu tumpahan oli menggenangi kebun petani" pungkas Olah.

Related Regular News: