Pasar Batubara Sepi Akibat Corona, Emiten Batubara Belum Revisi Rencana Bisnis

Sumber : https://insight.kontan.co.id/news/pasar-batubara-sepi-akibat-corona-emiten-batubara-belum-revisi-rencana-bisnis

 

Penyebaran virus corona yang semakin masif membuat emiten pertambangan batubara makin waspada. Meski begitu, emiten belum melakukan penyesuaian strategi.

Sentimen corona berpotensi menekan bisnis emiten batubara saat harga masih rendah. Kemarin, harga batubara mencapai US$ 69,60 per ton. Padahal di akhir 2019 harga batubara masih US$ 78 per ton.

Analis NH Korindo Sekuritas Meilki Darmawan menilai, pelemahan ekonomi negara di dunia berpotensi menyebabkan negara-negara konsumen batubara, seperti China, India, Korea Selatan dan Jepang, berpotensi menurunkan konsumsi batubara.

Permintaan batubara dari China juga diperkirakan akan lebih rendah tahun ini akibat rencana pengurangan emisi oleh pemerintah setempat. Selain itu, China juga berencana sedikit mengerem keran impor batubara karena ingin mendahulukan konsumsi batubara produksi domestik.

Meilki memperkirakan harga batubara tahun ini akan lebih rendah dari tahun lalu. "Ini dengan asumsi permintaan dari China yang rendah sehingga memiliki dampak pada harga batubara dunia," ujar dia, kemarin.

Meski begitu, Direktur Utama PT Harum Energy Tbk (HRUM) Ray Gunara mengatakan, sejauh ini belum ada perubahan anggaran belanja modal tahun ini. Harummengalokasikan capex sebesar US$ 8 juta untuk tahun ini.

Emiten batubara tetap ekspansi

Tapi, Ray mengatakan Harum Energy bisa melakukan penyesuaian anggaran. "Kami terus memantau perkembangan pasar dan dampak dari Covid-19 dan kami akan melakukan penyesuaian anggaran jika perlu," ujar Ray ke KONTAN, Kamis (26/3). Sebagai catatan, tahun ini, HRUM menargetkan produksi batubara mencapai 4 juta-4,5 juta ton.

Direktur & Corporate Secretary Bumi Resources (BUMI) Dileep Srivastava juga mengatakan sejauh ini tidak ada perubahan anggaran capital expenditure (capex), begitu pula dengan alokasi penggunaannya.

Tahun ini BUMI akan menggelontorkan capex sebesar US$ 50 juta-US$ 60 juta dan akan digunakan untuk perawatan serta biaya sebagian eksplorasi. Dari segi produksi, BUMI juga masih tetap pada target semula, yakni 90 juta ton-95 juta ton tahun ini.

Head of Corporate Communication Adaro Energy Febriati Nadira mengatakan, sejauh ini Adaro belum akan mengubah besaran capex dan target produksi. "Belum ada perubahan panduan, masih sama dengan sebelumnya," ujar Febri.

Tercatat, Adaro akan menggelontorkan belanja modal sebesar US$ 300 juta-US$ 400 juta. Dananya berasal dari kas internal. Tahun ini Adaro menargetkan produksi batubara mencapai 54 juta ton-58 juta ton

Ekspor batubara Adaro ke India juga masih normal meski India sudah melakukan lockdown 21 hari. Tahun lalu, dari produksi batubara Adaro sebear 59,18 juta ton, sekitar 15% diekspor ke India.

Sekretaris Perusahaan Mitrabara Adiperdana (MBAP) Chandra Lautan mengatakan, Mitrabaraakan tetap memproduksi batubara sesuai dengan target yang telah ditentukan. "Target produksi masih sama, yaitu dengan target sekitar 4 juta ton, deviasi kurang lebih 10%," ujar Chandra.

Meilki menilai efisiensi pada beban biaya dan beban operasional dapat menjadi kunci bagi emiten pertambangan tahun ini. "Saya belum melihat ada katalis positif yang dapat mengangkat harga batubara dunia tahun ini," ungkap dia.

Related Regular News: