Dampak COVID-19 Terhadap Industri Pertambangan Batubara

Pada tanggal 18 Februari 2020 sudah terdapat 73ribu orang yang dikonfirmasi terkena COVID-19, yang mana 99% kasus terjadi di negara Tiongkok, pusat manufaktur dunia. Sejak virus ini ditemukan, jumlah orang yang terjangkit virus tersebut terus meningkat setiap hari dan penyebarannya terus meluas hampir ke seluruh dunia. Dikarenakan penyebaran virus yang sangat cepat, industri dan perusahaan di Tiongkok memperpanjang hari libur Imlek (Chinese New Year) selama satu sampai dua minggu. Bahkan sampai saat ini, industri di Tiongkok belum kembali beroperasi 100% dikarenakan kurangnya pekerja dan permintaan barang ekspor dari Tiongkok yang menurun drastis.

Pada saat minggu kedua bulan Februari 2020, waktu di mana para traders batubara kembali aktif bekerja, permintaan akan batubara impor meningkat dan menaikkan harga batubara internasional, termasuk batubara Indonesia, baik sub-bituminous higher CV maupun lower CV. Hal ini dikarenakan prediksi turunnya pasokan batubara domestik Tiongkok. Sampai saat ini hanya sekitar 60% dari total kapasitas produsen batubara domestik milik negara yang sudah beroperasi. Sedangkan sebagian besar perusahaan swasta belum mendapatkan ijin beroperasi dari pemerintah lokal. Selain itu, pekerja harus melalui proses karantina terlebih dahulu. Oleh karena itu, traders melakukan pembelian secara spot untuk menutupi kebutuhan hingga akhir bulan Maret 2020. Kenaikan harga batubara internasional juga didukung dengan adanya penurunan harga freight dikarenakan oversupply kapal seiring dengan penurunan ekspor dari Tiongkok. Sebagian buyers dari Tiongkok masih menunggu perkembangan dari imbas endemi COVID-19 ini.

Jika COVID-19 tidak membaik maka maka perekonomian Tiongkok dipastikan akan menurun lagi tahun ini, yang akan berakibat menurunnya aktivitas industri yang secara langsung mempengaruhi kebutuhan batubara. Pemerintah Tiongkok telah menggelontorkan paket stimulus ekonomi dengan memperlonggar kredit.

Kondisi oversupply pasar batubara global akan terjadi dan harga batubara akan menurun. Dalam kondisi tersebut, diperlukan kontrol produksi yang kuat dari pemerintah Indonesia dan supply discipline dari produsen batubara. Dukungan lain pemerintah dalam mendukung industri batubara di tengah ketidakpastian dunia, juga dapat dilakukan dengan mempertimbangkan pencabutan Permendag 82/2017, yang mengharuskan penggunaan kapal nasional yang hingga saat ini belum siap diterapkan.

Related Regular News: