Pelita Samudera Shipping (PSSI) Bidik Pertumbuhan 20—25 Persen

Sumber : https://market.bisnis.com/read/20200219/192/1203624/pelita-samudera-shipping-pssi-bidik-pertumbuhan-2025-persen

Bisnis.com 19/2/2020  memberitakan  bahwa  PT Pelita Samudera Shipping Tbk., emiten pelayaran berkode saham PSSI, membidik pertumbuhan pendapatan 20 persen — 25 persen pada 2020, setelah mencatatkan pertumbuhan pendapatan sekitar 18 persen pada 2019.

Sekretaris Perusahaan PSSI Imelda Kiagoes mengatakan meski harga komoditas batu bara pada 2019 berfluktuasi, perseroan dapat mencatat pendapatan (unaudited) sebesar US$75,3 juta  atau sekitar Rp1,1 triliun. Pendapatan ini meningkat sekitar 18 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Pertumbuhan dua digit ini didukung oleh kenaikan signifikan pendapatan sewa berjangka non-audit sebesar 304 persen menjadi US$9,9 juta, dari US$2,4 juta pada 2018, dengan pertumbuhan terbesar dari segmen kapal Kargo Curah [MV],” katanya melalui siaran pers, Rabu (19/2/2020).

Adapun, untuk tahun ini, perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan mencapai 20 persen—25 persen, menjadi sekitar US$92—US$95 juta. Dia mengatakan perseroan akan melakukan optimalisasi aset, diversifikasi bisnis, dan ekspansi aset untuk mencapai target tersebut. Pertumbuhan nilai kontrak sewa berjangka, lanjutnya, juga akan menjadi kunci pertumbuhan pendapatan perseroan.

Dia menjelaskan dari total raihan kontrak baru serta perpanjangan kontrak jangka panjang di segmen Floating Loading Facility (FLF), 91 persen merupakan kontrak jangka panjang. Adapun, sisanya merupakan sedangkan sisanya spot basis.

Sementara itu, di segmen kapal Tug and Burges (TNB), komposisi kontrak jangka panjang mencapai 74 persen, sedangkan sisanya spot basis. Secara umum, rata-rata utilisasi kapal pada 2019 mencapai 94 persen.

 

Selain itu, perseroan akan menggenjot pertumbuhan volume pengangkutan hingga 10 persen—15 persen, menjadi 32 juta—34 juta metrik ton. Pada tahun lalu, lanjutnya, volume pengangkutan perseroan mencapai 30,2 juta metrik ton.

“Divestasi satu unit FLF ‘Ratu Barito’ pada September 2018 telah menaikkan utilisasi FLF pada 2019. Penyewaan berjangka satu unit FLF di 2019 juga memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan pendapatan perseroan,” tambahnya.

Dia mengatakan dua unit MV milik perseroan saat ini telah mendapatkan kontrak berjangka jangka panjang senilai US$39,4 juta untuk pengangkutan bijih nikel dan batu bara. Selain itu satu unit MV terakhir yang dibeli di penghujung 2019 telah mendapatkan kontrak berjangka jangka panjang senilai US$6 juta untuk pengangkutan produk besi dan batu bara.

“Ekspansi armada MV ini merupakan salah satu target diversifikasi bisnis di luar pengangkutan komoditas batubara,” ujarnya.

Pada tahun ini, imbuh Imelda, perseroan menetapkan belanja modal sebesar US$30 juta untuk penambahan aset TNB serta perbaikan dan pemeliharaan kapal. Belanja modal ini lebih rendah dari serapan belanja modal 2019 yang mencapai US$50 juta atau 81 persen dari alokasi awal.

Alokasi belanja pada tahun lalu sebagian besar digunakan untuk pembelian empat unit MV, satu unit kapal tunda, dan dua unit tongkang berukuran 330 feet (TNB). Selain itu belanja modal digunakan untuk perbaikan dan pemeliharaan kapal.

“Pembelian 4 unit MV kelas Supramax dan Handysize menambah menjadi total 6 unit MV dan TNB menjadi total 39 set untuk mengejar peluang logistik pasar ekspor dan domestik. Total Aset mengalami kenaikan sekitar 28% dibandingkan dengan 2018,” jelasnya.

Dia mengatakan bahwa seluruh unit MV yang dibeli pada 2019 akan mulai beroperasi secara penuh pada tahun ini. Menurutnya, perseroan juga akan terus mengeksplorasi potensi pasar logistik baru termasuk non-batu bara.

 

Related Regular News: