Prospek Batubara Masih Suram, Ini Rekomendasi untuk Saham PTBA, ITMG, ADRO, dan INDY

Sumber :  https://insight.kontan.co.id/news/prospek-batubara-masih-suram-ini-rekomendasi-untuk-saham-ptba-itmg-adro-dan-indy?page=all

KONTAN.CO.ID 17/2/2020 memberitakan bahwa harga saham sektor batubara dalam satu tahun terakhir cenderung bergerak turun.

Meski sekitar empat bulan lalu harga batubara begerak stabil, analis memandang kinerja produsen batubara masih bakal menemui banyak tantangan.

Lihat saja, harga saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dalam satu tahun terakhir hingga Jumat (14/2) turun 54% .Sementara, harga saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) di periode yang sama turun 46%.

Kompak, harga saham PT Indika Energy Tbk (INDY) turun 60%. Sedangkan, harga saham PT Adaro Energy (ADRO) turun 4,35%.

Analis NH Korindo Sekuritas Meilki Darmawan memperkirakan kinerja sektor batubara tahun ini dan ke depan akan menghadapi tantangan terkait regulasi energi ramah lingkungan di beberapa negara. Sejumlah negara mulai mengurangi penggunaan batubara untuk menurunkan emisi global.

Banyak negara berali ke energi baru dan terbarukan (EBT). "Arah permintaan batubara secara global akan terus menurun, sementara pasokan dari kawasan Asia masih tinggi, jadi harga batubara global berpotensi bergerak melemah," kata Meilki, Jumat (14/2).

Virus corona yang ditakutkan bisa menghambat pertumbuhan ekonomi global juga dikhawatirkan akan menjadi sentimen negatif bagi sektor komoditas. Namun, Meilki berpendapat, komoditas batubara saat ini belum terlihat terkena dampak dari sentimen virus corona.

Sedang komoditas lain mulai terpengaruh. Contohnya tembaga. "Karena tembaga dan logam lainnya merupakan komoditas langsung untuk industri, sementara batubara untuk energi, jadi kinerja emiten batubara masih aman hingga saat ini," kata Meilki.

Namun, jika virus corona makin mewabah dan berlangsung hingga enam bulan ke depan, permintaan batubara bisa ikut turun. Pasokan ke China juga terganggu korona. Dampaknya, kinerja emiten batubara yang memiliki pendapatan ekspor ke China bisa terganggu.

Direktur Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya menambahkan, permintaan batubara berpotensi menurun bila harga minyak dunia terus rendah. "Jika harga batubara lebih mahal dari minyak, maka batubara bisa disubsitusi minyak," kata dia.

Prospek batubara

Analis J.P. Morgan Sumedh Samant menuturkan, keseimbangan pasokan dan permintaan batubara lewat laut akan membaik di semester I-2020. Dalam risetnya, Sumedh menjelaskan, ada beberapa sentimen positif yang mendukung kenaikan harga batubara.

Pertama, pasokan batubara Australia dan Indonesia berpotensi terganggu cuaca ekstrem. Kedua, kebijakan impor National Development and Reform Commission (NDRC) dari China, yaitu kebijakan pengalihan energi ke gas alam. Sumedh memandang kebijakan tersebut akan berjalan lebih fleksibel.

Ketiga, potensi penurunan produksi batubara di Indonesia sebesar 550 juta ton. Angka tersebut lebih rendah 10% dari perkiraan produksi tahun lalu di 610 juta ton.

Selain itu, sektor batubara berpotensi mendapat sentimen positif jika draf RUU Cipta Kerja atau Omnibus Law Cipta Kerja tidak membatasi luas wilayah operasi produksi Perizinan Berusaha Pertambangan Khusus (PBPK). Aturan sebelumnya di Undang-Undang No 4/2009 tentang Mineral dan Batubara (Minerba) membatasi luas lahan pertambangan batubara hanya 15.000 hektare (ha).

Meilki menambahkan, harga batubara acuan (HBA) periode Februari juga naik 1,45% secara kuartalan menjadi sebesar US$ 66,89 per metrik ton. Kenaikan HBA terdorong sentimen kebakaran di Australia dan naiknya permintaan dari Jepang serta Korea Selatan akibat musim dingin.

Meilki memprediksi harga batubara bergerak di rentang US$ 65 per ton-US$ 75 per ton di tahun ini.

Namun, ada kemungkinan harga batubara melonjak dalam jangka pendek. Ini diikuti potensi harga batubara yang lebih stabil hingga kuartal II-2020. Sumedh memperkirakan emiten sektor batubara siap bergerak naik. Apalagi, di sepanjang tahun lalu harga saham sektor ini anjlok.

Rekomendasi saham batubara

Senada, Meilki mengatakan saham sektor batubara masih layak dikoleksi, terutama saham dengan kapitalisasi pasar besar, seperti, PTBA, ADRO dan ITMG. "Harga saham sektor batubara rata-rata berada pada PER di bawah 10 kali, ini saham dengan valuasi murah," kata Meilki.

Meilki merekomendasikan beli ADRO dengan target harga Rp 1.600 per saham. Sementara Sumedh merekomendasikan overweight PTBA dengan target harga Rp 3.500 per saham. William bersikap netral untuk sektor batubara.

Berikut rekomendasi analis untuk saham-saham emiten batubara:

  • Bukit Asam (PTBA)

PTBA menyiapkan dana belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 4,04 triliun di tahun ini. Nilai tersebut lebih rendah ketimbang capex yang dialokasikan PTBA pada tahun lalu sebesar Rp 6,47 triliun. Salah satu proyek yang akan dibangun dengan modal tersebut adalah pabrik gasifikasi batubara.

  • Indo Tambangraya Megah

Produksi batubara ITMG di tahun ini tidak akan lebih tinggi dari tahun lalu. Asal tahu saja, pada 2019 emiten bersandi ITMG ini membidik produksi 23,6 juta ton batubara dengan penjualan 26,5 juta ton. Penurunan produksi disebabkan karena banyaknya pasokan yang ada di pasar.

  • Adaro Energy (ADRO)

ADRO memiliki lini bisnis pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang dikelola anak usahanya, yakni PT Adaro Power. PLTU ini dikelola oleh PT Tanjung Power Indonesia, perusahaan konsorsium yang dimiliki Adaro Power dan PT East-West Power Indonesia, anak perusahaan korporasi asal Korea Selatan, yakni East-West Power Ltd.

  • Indika Energy (INDY)

INDY menargetkan produksi batubara tahun ini 30,9 juta ton. Dari jumlah tersebut, 29,65 juta ton batubara di antaranya diproyeksikan berasal dari tambang PT Kideco Jaya Agung yang berada di Kalimantan Timur. Sementara, PT Multi Tambangjaya Utama diperkirakan mampu memproduksi 1,3 juta ton batubara pada tahun ini.

 

 

Related Regular News: