RKAB Batu Bara Direvisi, PTBA Lihat Peluang Pasar

Sumber :  https://republika.co.id/berita/q5so4m370/rkab-batu-bara-direvisi-ptba-liat-peluang-pasar

REPUBLIKA.CO.ID  16/2/2020  memberitakan bahwa tahun ini pemerintah menyepakati rencana produksi batubara secara nasional sebanyak 550 juta ton. Menurunnya produksi nasional ini selain karena harga batu bara yang sedang anjlok, juga permintaan pasar yang tertekan karena tensi tinggi China dan Amerika Serikat kemarin.

Meski begitu, pemerintah masih memberikan peluang untuk penambahan produksi batu bara. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, Kementerian ESDM, Bambang Gatot Ariyono menjelaskan jika beberapa bulan ke depan terjadi perubahan harga maka tidak tertutup kemungkinan kuota produksi akan ditambah.

"Kita di RKAB menetapkan 550 juta ton walaupun di semester I akan direvisi, apabila harga jadi baik, ini akan jadi revisi untuk bisa meningkatkan produksi batubara," kata Bambang, Ahad (16/2).

Menanggapi hal tersebut, perusahaan batu bara pelat merah, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) belum bisa memastikan apakah akan memanfaatkan peluang penambahan produksi tersebut atau tidak. Direktur Utama PTBA, Arviyan Arifin menilai perusahaan masih akan melihat peluang pasar atas batu bara.

"Kita sih ikut aturan pemerintah saja, dan juga melihat peluang pasar seperti apa," ujar Arviyan saat dihubungi, Ahad (16/2).

Meski begitu, Arviyan menjelaskan jika perusahaan hanya mengandalkan produksi batu bara kalori standar maka akan terpengaruh pada posisi harga batu bara yang tidak stabil hari ini. Ia menjelaskan perusahaan pada tahun ini fokus memacu produksi batu bara kalori tinggi. Langkah ini juga kata Arviyan seiring dengan kebijakan pembatasan produksi batu bara domestik oleh pemerintah.

“Oleh karena itu, target produksi kalori tinggi tahun ini dikatrol sebesar 3,8 juta ton atau meningkat sekitar 10 persen dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya sebesar 3,5 juta ton,” ujar Arviyan.

Batu bara kalori tinggi tersebut merupakan kebutuhan negara negara antara lain Thailand, Vietnam, dan Australia, dari sebelumnya ke India, Taiwan, dan Pakistan.

 

Related Regular News: