Fix! Ini Aturan Royalti Batu Bara 0% di Omnibus Law

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/news/20200213141716-4-137631/fix-ini-aturan-royalti-batu-bara-0-di-omnibus-law

 

Rancangan Undang-Undang Omnibus Law Cipta Tenaga Kerja setebal 1.000 halaman bocor dan beredar ke media.

Meski sampai saat ini belum ada pihak pemerintah yang mau (dan menghindar) untuk mengkonfirmasi rancangan yang beredar tersebut, namun isinya sesuai dengan isu yang berkembang selama ini. Salah satunya adalah isu terkait pemberian insentif royalti batu bara menjadi 0%.

Hal ini tercantum di halaman 227 dari 1.000 halaman rancangan undang-undang sapu jagad tersebut. Masuk dalam revisi Undang-Undang Mineral dan Batu Bara Nomor 4 Tahun 2009 pasal 128 A. Pasal ini merupakan pasal sisipan di antara pasal 128 dan 129.

Berikut adalah kutipan pasalnya,

Di antara Pasal 128 dan 129 disisipkan 1 (satu) pasal yakni Pasal 128A yang berbunyi sebagai berikut:
Pasal 128A

* (1)  Pelaku usaha yang melakukan peningkatan nilai tambah mineral dan batubara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103, dapat diberikan perlakuan tertentu terhadap kewajiban penerimaan negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 128. 

* (2)  Pemberian perlakuan tertentu terhadap kewajiban penerimaan negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk kegiatan peningkatan nilai tambah batubara dapat berupa pengenaan royalti sebesar 0%. 

* (3)  Ketentuan lebih lanjut mengenai perlakuan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Soal royalti batu bara 0% ini dikonfirmasi oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, kemarin. Menurutnya royalti 0% diberikan jika perusahaan batu bara memiliki pabrik yang mendongkrak atau menambah nilai tambang. "Hanya kalau bikin pabrik, kalau tidak bikin pabrik dia tidak nol, itu namanya fasilitas."

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, Bambang Gatot, belum mau mengelaborasi lebih jauh soal royalti 0% ini. Namun ia memastikan usulan ini datang dari pemerintah.

Menurutnya investasi hilir di Indonesia membutuhkan insentif. Bambang mencontohkan untuk gasifikasi batu bara di China sudah bisa sampai ke produk avtur. Tapi semua mesin dan teknologi yang digunakan milik sendiri.

Sementara Indonesia untuk mesin dan teknologi masih beli. Hal inilah yang membuat hilirisasi jadi mahal, sehingga perlu insentif.

"Untuk batu bara itu baru mulai karena investasinya sekitar US$ 3 miliar di PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Ini kita sedang evaluasi kebijakan, Pertama, royaltinya berapa. Ini pak Menko bilang sampe nol," terangnya.

Related Regular News: